Rabu, 20 Agustus 2014

Baby Blues , Ruqyah , dan Writing Therapy

Ada yang bertanya bagaimana saya bisa menulis dengan cepat tanpa pernah terlibat secara langsung dalam pelatihan-pelatihan menulis .
Begini kronologis singkatnya ;

Setelah pindah ke Polandia dan mengalami kehamilan yang tak biasa ( baca muntah-muntah sampai melahirkan ) , shock culture dan titik puncaknya adalah setelah melahirkan.Cerita lengkapnya dalam buku " Memoar Aisha Pisarzewska , Putri Sang Perantau "

Saya sendiri tidak menyadari bahwa saya mengalami " Baby Blues " .
Dalam kasus saya Baby Blues ini kemudian berkembang menjadi " Postpartum Depression " .

Baby Blues sendiri memiliki pengertian ; perasaan sedih dan gundah yang dialami oleh sekitar 50-80% wanita setelah melahirkan bayinya.(www.tipsbayi.com).

Berikut Gejala Kasus Baby Blues Syndrome ;
Menangis tanpa sebab yang jelas
Mudah kesal
Lelah
Cemas
Tidak sabaran
Enggan memperhatikan si bayi
Tidak percaya diri
Sulit beristirahat dengan tenang
Mudah tersinggung

Sedangkan Postpartum Depression perbedaannya terletak pada frekuensi, intensitas, serta durasi berlangsungnya gejala-gejala di atas. Pada Postpartum Depression, berbagai gejala tersebut lebih sering, lebih hebat, serta lebih lama.

PPD bisa berlangsung hingga 1 tahun setelah kelahiran bayi…
Pada kasus PPD akut, si ibu bisa saja bunuh diri atau menyakiti bayinya sendiri…( pada kasus saya ; menyakiti bayi  , saya terbuka mengenai hal ini semoga jika ada yang mengalami hal yang sama , pengalaman ini bisa menjadi solusi .Allahumma fagfirlana :)


Saya berjuang keras untuk sembuh namun karena kurangnya dukungan ( lingkungan ) saya ( hampir ) dibawah ke rumah sakit jiwa  .Saya sendiri bingung untuk mengungkapkan perasaan mengenai Baby Blues ini , Abu Aisha sendiri tidak menyadari bahwa saya mengalami Baby Blues dan Postpartum Deprsession .
Abu Aisha sebisa mungkin membantu saya dengan cara berkorespondensi melalui email ke Sheik Assim Al-Hakim di Madinah terkait kasus saya ( sudah dalam tahap emergensi dalam rumah tangga ) .Hal ini dikarenakan Abu Aisha akan bekerja di Norwegia dan kekhawatiran akut meninggalkan saya bersama Aisha di Polandia yang waktu itu Aisha masih berumur beberapa bulan dengan PPD ini.
Alhamdulillah jawaban dari Sheik Assim -Al-Hakim untuk Ruqyah mulai saya praktekkan , Alhamdulillah perlahan-lahan mulai sembuh tapi tidak hilang , terkadang sedikit pemicu bisa membuat saya hilang kendali .Al-Qur'an terjemahan yang saya bawa dari Indonesia pemberian sahabat di Bandung sangat membantu menenangkan jika depresi saya mulai datang .
Atas izin Allah setelah melewati hari-hari nan melelahkan secara fisik maupun mental .Alhamdulillah , Allahu akbar , doa saya terkabul .Allah Swt membimbing saya ( mengungkapkan perasaan ) melalui tulisan mengingat saya sendiri di Polandia belum bisa bersosialisasi dan tidak ada orang terdekat yang bisa saya jadikan tempat curhat .
Saya mulai menulis rangkain peristiwa demi peristiwa dalam catatan kecil yang dikemudian hari catatan ini saya tulis ulang menjadi " Memoar " .Saya tidak tahu ada istilah Writing Therapy .
Writing Therapy menjadi solusi berikutnya karena keenggananan saya untuk mengungkapkan langsung kepada suami , keluarga serta lingkungan maupun kepada ahli ( psikolog ) serta menolak minum obat karena saya yakin saya tidak sakit .
Writing Therapy ( menurut Wikipedia ) merupakan bentuk terapi ekspresif yang menggunakan tindakan menulis dan pengolahan kata-kata tertulis sebagai terapi.Writing Therapy berpendapat bahwa dengan menulis , perasaan seseorang secara bertahap menjadi mudah untuk menguraikan perasaan trauma emosional. [1] Writing Therapy dapat berlangsung secara individual atau dalam kelompok dan dapat diberikan secara pribadi dengan seorang terapis atau jarak jauh melalui surat atau Internet.

  1. Alhamdulillah atas izin Allah saya sembuh dan kembali hidup normal .Jadi , mulailah membaca Al-Qur'an plus dengan terjemahan dan jika tidak bisa mengungkapkan kepada orang terdekat atau sahabat apa yang kita rasakan , mulailah menulis ! Insyah Allah it will help you .



Senin, 18 Agustus 2014

Nikah Dengan Bule , Asyik Nggak ?

Setelah banyak yang kenal dan kemudian tahu bahwa sebenarnya orang yang biasa saya  panggil " abang " ini ternyata bule :D  alias Abu Aisha aka suamiku ( :D Alhamdulillah )  , maka mulailah acara konsultasi seputar dunia " perbulean " hihihi.Untung bukan dunia perhelatan :D kagak nyambung .

Alhamdulillah setelah tulisan -tulisan saya yang rada serius dibukukan  dalam " Buku Memoar Aisha Pisarzewska , Putri Sang Perantau " tetap prinsip untuk tidak memposting foto-foto keluarga dijaga sebagai bagian dari menghormati aturan rumah tangga.( Abu Aisha mah nggak suka narsis ) :D yang suka moto ya eike :P Alhamdulillah perlahan-lahan untuk foto selfie sudah tobat dan lebih mengarah kelada memotret alam.

Lah ?, :D trus hubungannya nikah sama bule apaan? .Nikah dengan bule itu sebenarnya sama saja , manusia punya akal , punya hati ( ya iyalah klo nggak punya hati rocker dong ! :D ) maksudnya semua manusia sama saja, perbedaan warna kulit , bahasa, serta budaya yang menjadikan manusia tidak egois dan menghargai perbedaan .Untuk nikah prinsip perbedaan bagi saya yakni budaya dan bukan keyakinan ( agama) sehingga sudah jauh-jauh hari kategori bule tidak masuk dalam daftar hehehe ( emang siapa eike dikejar-kejar bule :P ) .

Trus ada yang nanya " Mbak Raidah ketemu suami gimana ? " ." Udah suaminya bule , cakep , muslim taat lagi  :) .Saya jawabnya sederhana ." Alhamdulillah , Allah Tuhan Yang Maha Memasangkan " .Mengingat saya sendiri bukan termasuk  dalam bursa kriteria bule pada umumnya:D  ( saya khan berjilbab lebar, pendek , kulit sawo matang , muka juga pas-pasan hehehe ) .Punya cita-cita bersuami bule nggak pernah terbesit .Alhamdulillah justru cita-cita yang nggak pernah mati itu kuliah di Eropa ( Subhanallah :) ingat jaman hunting beasiswa ke luar negeri terutama ke Jerman ) udah kayak gaya akrobat , kepala diatas kaki dibawah kagak dapet-dapet :D .Masha Allah malah dilamar si Abang pas jadi mahasiswa akhir yang hampir-hampir abadi ^_^ ( telat lulus kuliah ) .

Trus nikah dengan bule , asyik nggak ? .Ini khan bukan game yang klo asyik lanjut nggak asyik berhenti.Mau nikah dengan orang sebangsa atau berlainan bangsa semuanya kembali ke pribadi masing-masing yang menjalani.Asyik nggak asyik ya inilah kehidupan.Prinsip utama yang saya tanam dalam kehidupan adalah selaras, seiring dalam keyakinan.Si Abang sendiri mualaf.Alhamdulillah sudah jadi muslim jauh hari sebelum ketemu saya  ( walaupun waktu itu saya menilainya sebagai muslim garis keras :D hihihi , sadis amat Bang ! ) .Iya suami saya ini tergolong ' garis keras ' masalah halal-haram kalah jauh sama saya yang muslim dari sononya :D .Sedikit aja makanan , minuman diragukan langsung batal santap , nggak kaya eike main sikat bro ! :) Alhamdulillah sekarang sudah jauh lebih baik hasil ditraining sama si Abang ^_^, nah ini asyiknya nikah dengan bule ( hehehe kagak nyambung :D )

Asyiknya ya itu kalau berantem bisa ngoceh panjang lebar dengan bahasa sendiri ke suami yang ujung-ujungnya sama-sama kagak ngerti :D *damailah*.Asyiknya bisa puas-puasin makan keju dan roti :D ( si Abang kategori wajah bule selera Arab , asyiiiik :D ) makan makanan Turki , Nasi Biryani , roti saus dll :P .

Nggak ada yang nggak asyik . Intinya its your choice , you should face it .Namanya hidup wajarlah pasti ada masalah boong tingkat tinggi tuh kalau ada yang bilang nikah dengan bule trus hidupnya romantis trus kaya film-film yang memperlihatkan sepasang sejoli berjalan di sepanjang jalan dengan aroma musim gugur yang syahdu *mulai menghayal ngarang novel * :D .Homesick ( naga-naganya kepengen mudik tiap tahun ke tanah air apa daya harga tiket muaaahal bangat ) akhirnya pasrah , sabar menikmati indahnya butiran salju :D mengingtkan hati  bahwa ini pilihan hidup Alhamdulillah masih tetap makan nasi kok :D .


Whats next :D ngantuk mbak , mas bro ! , insyah Allah nanti kita lanjut lagi

Minggu, 10 Agustus 2014

Memaksimal Memotret dengan Kamera Ponsel

 Hobi memotret ini muncul karena saya sendiri suka melihat gambar pemandangan alam.Nah, masalahnya saya bukan seorang photografer hanya ibu rumah tangga biasa .Berhubung saya sendiri tidak punya kamera DSLR maka saya mencoba memotret ala kadarnya dengan kamera ponsel :D

Awalnya kecewa ( jiaah gambar emak-emak standar bangat ^_^ )  apalagi hasil foto dari kamera ponsel Nokia tidak begitu jelas alias kabur-kaburlah gambarnya  .Alhamdulillah pinjam kamera ponsel punya suami ( dibajak mulu sama saya ) :D yakni jenis HTC One yang sudah disetting dalam bahasa Polandia .Puyeng nggak ngerti :D hehehe .

Tibalah pada satu momen dimana tanpa sengaja saya memotret bunga , dan ternyata hasilnya alhamdulillah keren ( penilaian subjektik dari suami , Aisha masih kecil belum bisa menilai karya emaknya ^_^ ) .

Hal-hal sederhana ini memunculkan pemikiran ( gaya filsuf pisan ^_^ ) bahwa prinsipnya jika ingin memotret  bisa dimulai dengan ;

1 .Nasihat pepatah " Tak ada rotan akarpun jadi " .Emak-emak yang punya kamera ponsel ayo mulai melirik hehehe memperhatikan jenis ponselnya tanpa harus membeli kamera DSLR.

2.Nasihat pepatah " Tak kenal maka tak sayang " .Ayo kenali jenis kamera ponselnya, apalagi yang suka selfie ( modal bangat itu untuk memotret ) :D karena sebenarnya memotret selfie lebih sulit dibanding memotret langsung ke arah objek .

3.Potret apa saja asal jangan potret mula mulu :D hehehe , mulai dari rumah, aktifitas anak-anak , bunga, dsbnya .Asal jangan memotret hal yang sangat pribadi dan ditaruh di sosmed ( kesalahan tingkat tinggi  (- -) .

4.Mulailah browsing aplikasi edting yang gratis tersedia untuk ponsel , misal Snapseed ( high recommendated ), Phonto , PS Express , Collages , dan masih banyak lagi ( dicari ya :) )

5.Percaya diri itu hal yang penting asal jangan rendah diri .Siapa bilang emak nggak bisa motret ? :D



Berbagi Sampai Ke Negeri Sang Paulus , Polandia

Allah Ta’ala berfirman : “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adala...