" Kisah Tiga Syarat yang Harus Dimiliki oleh Orang yang Suka Berbohong "
****
Beberapa hari yang lalu saya dan Abu Aisha berdiskusi terkait salah satu buku karya Dr.Abu Ameenah Bilal Philip tentang The Evolution of Fiqh lantas entah bagaimana saya mengingat Bab Fiqh mengenai shalat jenazah .Bertanyalah saya terkait hal ini terutama bagaimana penganut muslim di Polandia terutama muslim Tatar sebelumnya diperlakukan saat meninggal .Apakah dilaksanakan shalat jenazah atau tidak ? , mengingat Abu Aisha banyak membaca sejarah muslim Tatar saya pikir beliau akan memberikan jawaban memuaskan.
Saya : " Bang...itu muslim Tatar yang meninggal dishalatkan juga ? .Waktu saya nonton di Youtube kok hanya diperlihatkan pemakamannya saja.
Abu Aisha : " Ya enggak tahu " Jawaban singkat bikin bete
Saya : " Masa Abang nggak tahu ? Abang khan sudah banyak baca sejarah Tatar ." Nanya tapi maksa minta dijawab
Abu Aisha : " Ya enggak tahu , masak mau maksa bilang tahu hanya gegara kamu yang nanya . "
Saya : bete tingkat tinggi
Abu Aisha : " Kalau kita nggak tahu tidak perlu kita sampai berbohong hanya untuk -menyenangkan orang lain " Sambil liat muka bete saya yang lagi nyuapin Aisha
Saya : " Ogut khan bukan orang lain Bang !
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sampai disini saya jadi ingat review buku karya Irfan Hamka tentang bagaimana sosok Buya Hamka menerangkan tentang ini orang yang suka berbohong.Dan memang realita di masyarakat seperti ini .Alhamdulillah saya bersyukur nilai-nilai ini dipegang teguh suami dan keluarga .Dan saya jadi malu sendiri mengingat seringkali karena " malu hati " dengan pandangan orang lain terlalu memaksakan sampai harus berbohong hanya untuk menyenangkan orang lain.
![]() |
| Gadis-gadis Tatar Polandia |
Berikut sedikit review dari buku " Ayah.....Kisah Buya Hamka "
Ada tiga syarat yang harus dimiliki oleh orang yang suka berbohong.
Pertama, orang itu harus memiliki mental baja, berani, tegas, dan tidak ragu-ragu untuk berbohong. Jangan seperti kamu tadi.
Kedua, tidak pelupa akan kebohongan yang diucapkannya.
Ketiga, harus menyiapkan bahan-bahan perkataan bohong untuk melindungi kebenaran bohongnya yang pertama.
![]() |
| Kover Buku Ayah....Kisah Buya Hamka |
Contoh, ada seorang teman bertanya kepada temannya
, ‘Tadi hari Jum’at shalat di mana?’ Si teman yang ditanya sebenarnya tidak ikut shalat berjamaah Jum’at, namun karena malu, dia berbohong, lalu menjawab, ‘Di Masjid Agung’.
, ‘Tadi hari Jum’at shalat di mana?’ Si teman yang ditanya sebenarnya tidak ikut shalat berjamaah Jum’at, namun karena malu, dia berbohong, lalu menjawab, ‘Di Masjid Agung’.
Si teman yang bertanya kembali bertanya, ‘Di lantai mana kau shalat?’ Yang ditanya kembali menjawab, ‘Di lantai bawah’. Bertambah lagi bohongnya. ‘Saya juga di lantai bawah, kok. Tidak,bertemu?’ Dengan mantap yang ditanya menjawab, ’Saya di saf paling belakang’. Coba kau hitung, Irfan! Untuk melindungi bohongnya, berapa kali dia menambah bohong agar temannya percaya bahwa dia memang shalat di Masjid Agung? Mengerti kau, Irfan, akan cerita Ayah ini?”
–Halaman 10 dari buku Ayah ....Kisah Buya Hamka

