Rabu, 25 Maret 2015

Ras Syukur dan Cemburu di Sosial Media

Rasa Syukur dan Cemburu di Sosial Media 


Oleh : Raidah Athirah


****
Tak bisa dipungkiri masuknya era sosial media membawa dampak yang luar biasa kepada hati manusia .
Sudah hukum alam sejak berabad-abad lalu hati manusia kadang dilanda cemburu .Bahkan sejak nabi Adam alaihi salam diciptakan ,kecemburuan itu telah hadir yang diprakarsai oleh syaitan.


Di era digital kecemburuan itu hadir dan semakin terbuka manakala beraneka macam tingkah pola manusia muncul dalam genggaman namun tak bisa kita miliki . Bila tak meletakkan pondasi keyakinan bahwa semua rezeki makhluk telah tertulis niscaya hati kita dilanda gelisah.Kita lupa bahwa itu adalah strategi syaitan yang disematkan pada kata " cemburu " .Akhir dari ini kemudian mengendap menjadi iri hati yang amat sangat .

Ya saudara ....Tak ada gunanya iri .Apa yang sudah dituliskan Allah Subhana wa Ta 'ala kepada kita tak akan bisa diambil orang lain.


Tugas kita adalah berikhitiar sebaik mungkin dan kemudian memasrahkan diri kepada Allah ,Tuhan Yang Maha Merajai .


يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
“Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah Pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepada kamu dari langit dan bumi?” (QS. Fathir: 3)

Hal ini yang kadang kita lupakan .Hari-hari kita gelisah .Galau tak henti-henti .Betapa beruntungnya Mbak Raidah ! Pengen bangat hidup kayak dia ! Pengen jadi ibu rumah tangga ! Wah hebat ya jadi penulis ! Keren ya punya suami bule ! Dan segudang pernyataan yang melahirkan pengandaian .
Kita lupa tentang hari -hari perjuangan yang orang -orang sukses lalui .Kita tak paham bahwa orang-orang besar lahir dengan sebuah jalan asahan yang kadang berliku .Kita belum paham bahwa orang -orang sholeh itu menghabiskan hari penuh amal sholeh di luar dari kebanyakan manusia.
Saat membaca kisah romantis sebuah pasangan ,kita cemburu .Perasaan membandingkan mulai hadir .Saat melihat foto teman yang sedang berlibur ,kita cemburu .Saat memandang foto orang-orang yang selalu tersenyum ,kita cemburu .Memandang beraneka ragam masakan ,kita mencibir .Seperti sesak yang tiada henti.Bahagia tak ada karena hati kita sibuk memikirkan kehidupan orang lain .Untuk apa ? 
Kapan hati kita tenang ? Hanya ada satu jalan , bersyukur .Itu saja ! Kecemburuan yang diperbolehkan adalah kecemburuan kepada kebaikan . Saya dan Abu Aisha sering berdiskusi bahwa benar hati kami kadang diliputi cemburu manakala ada saudara yang membutuhkan pertolongan namun langkah kami terbatas .Kami cemburu kepada saudara yang dengan tulus ikhlas semata karena Allah begitu dekat dengan anak yatim.
Abu Aisha sering berkata bahwa beliau begitu cemburu kepada saudara yang dekat rumahnya dengan masjid .Bagaimana tidak , untuk shalat jamaah saja beliau harus berjuang menyetir di musim dingin .Belum lagi bila tak ada waktu libur , beliau hanya bisa shalat di waktu-waktu istirahat karena pekerjaan fisik yang berat dan kondisi tempat kerja yang tak memungkinkan.
Saat beliau berkata seperti itu saya jadi semakin merindukan tanah air .Betapa sebuah karunia terlahir dan besar di rahim ibu pertiwi .Rasa syukur itu yang kami pelajari .Setiap rumah punya cerita masing-masing.Mustahil isi rumah selalu ada tawa , sudah merupakan ketetapan bahwa ada masanya turun hujan ,dan pasti datang panas mentari .
Saya berterimah kasih kepada sebagian orang yang membagikan kisah mereka ,yang dengan itu saya bersyukur betapa Allah Maha Adil .Hanya saja terkadang kita belum sampai pada hikmah hidup karena terlalu banyak kecemburuan yang tidak pantas .
Itulah mengapa saya mendidik hati ketika mulai bergaul di sosial media .Melihat kebahagian teman ,secepat mungkin saya mengucap doa "Allahumma Barik Lahu ,Allahumma Barik Lakum ,BarakAllahu fiik " 


Mengapa harus berdoa ? Agar syaitan tak sampai membisik cemburu yang berujung iri yang kuat .
Doa dan rasa syukur adalah dua kunci penting ketika kita mulai berada di kehidupan sosial media .Mendoakan saudara kita .Apa yang orang lain perbuat diluar kendali kita .Apa yang ada dalam diri kita adalah kuasa kita yang nantinya akan kita pertanggung jawabkan di hadapan Allah .
Perjalanan ini terlalu singkat hanya untuk mengutuk dan meratapi nikmat yang tak bisa kita raih.Terlalu banyak nikmat yang sering kali dilupakan .Kesehatan ,keluarga ,tetangga yang baik ,lingkungan yang bersih dan nikmat yang utama adalah Iman dan Islam .
Bila hati kita tak sanggup membendung arus godaan sosial media ,ambillah jarak barang sebentar .Tanyakan kembali ke relung hati yang terdalam .Mengapa saya berada disini ? Untuk apa ? Bila tak ada Allah dalam hati , perlu kita mencerca diri kita .Tanyakan kembali , setiap waktu dan kesempatan yang Allah karuniakan ,bagaimana nanti dipertanggung jawabkan ?
Tanamkan dalam-dalam .Yang terdalam , kuat sampai menancap dalam keyakinan dan berbuah dalam laku bahwa perjalanan kehidupan adalah jembatan .Tujuan yang hakiki adalah keridhoan Allah semata.Lantas , untuk apa cemburu ? 
Renungkan lagi ! Yakin bahwa rezeki tak akan tertukar karena ada Allah, Tuhan Yang Maha Adil , Dia Rabb Yang Maha Cermat .
“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Fathir: 2). 
Raidah Athirah
Haugesund, Norwegia

Minggu, 01 Maret 2015

Homeless ( Gelandangan ) , Bagaimana Rupa Mereka di Eropa

Homeless ( Gelandangan ) ,Bagaimana Rupa Mereka di  Eropa ?

Oleh : Raidah Athirah

****

Homeless atau biasa kita sebut gelandangan bukan saja identik dengan kehidupan di negara-negara  Asia .Di berbagai belahan dunia rupa para gelandangan selalu  ada.

Ini sisi hidup yang sering kita lupakan bahwasanya dimanapun , kehidupan adalah sebuah perjuangan .Semaju apapun Eropa pasti  ada  rupa ini (homeless)  termasuk Norwegia.

Pernah  ada yang bertanya  kalau di negara-negara maju seperti Eropa , bagaimana kehidupan para homeless ini ?

Haruslah kita tahu bersama bahwa kehidupan di luar negeri terutama untuk tempat tinggal sangat mahal .Orang-orang yang kehilangan pekerjaan atau yang datang secara ilegal berpotensi menjadi homeless .

****

Bagaimana rupa mereka ?

Selama tinggal di Polandia kami  sering sekali ke ibukota ,Warsawa.Disitu  saya suka memperhatikan orang-orang yang tinggal di bawah jembatan di pusat kota ( centrum ) .

Penampilan seringkali bisa menipu ,apalagi bagi pendatang seperti saya yang belum tahu situasi dan kebiasaan masyarakat setempat.Lalu bagaimana dengan Norwegia ? Tidak jauh berbeda .Di Norwegia bahkan saya sama sekali tidak bisa membedakan mana homeless dan tidak .Mungkin karena kami tinggal di kota kecil .

Abu Aisha cerita bahwa di Norwegia sulit menemukan homeless tapi mereka ada .Sewaktu beliau ke Oslo pernah menyaksikan sendiri seorang bapak berjas  dan berdasi layaknya pekerja kantoran lengkap dengan kopernya keluar dari tenda kecil di pinggir stasiun.Mana ada pekerja kantoran bermalam di tenda ?

Saat musim dingin penampilan mereka justru semakin sulit untuk  dikenali .Tahun 2010-2011 suhu ekstrim musim dingin pernah melanda Polandia  dan tetangganya Ukraina yang banyak memakan korban terutama para homeless .

Kami yang tinggal di rumah susun alias apartemen sudah sangat kedinginan apalagi yang tidak memiliki tempat tinggal .Kehidupan musim dingin punya tantangan tersendiri .Itulah mengapa banyak yang meninggal ketika suhu dingin mencapai titik ekstrim .Kebanyakan dari mereka adalah para gelandangan /homeless.

 Bila musim panas tiba jumlah homeless semakin bertambah .Hal ini membuat  polisi dan dewan kota sibuk untuk mengatur mereka .Bukan saja gelandangan ,peminta -minta pun bertambah .

Rupa mereka bagaimana ?  Awal saya di Polandia dan pertama kali ke Warsawa saya takjub sekali dengan penampilan mereka .Apalagi yang seniman jalanan kalau di Indonesia mungkin sudah jadi artis atau dikejar-kejar bule hunter :D .

Cakep ,jaketnya keren dan merokok .Ingat  harga rokok di Polandia juga mahal .Sulit membedakan mana gelandangan dan tidak .

Kami pernah duduk di taman di Warsawa waktu awal musim panas , saya perhatikan justru banyak turis yang memotret para gelandangan ini .Mungkin para turis itu sama takjubnya dengan saya :D

Justru  penampilan yang bukan gelandangan terlihat biasa saja .Celana jeans dan tas punggung kecuali para pekerja perbankan dan hukum yang memang rapi sekali dengan dasinya .Kalau semua berbaur di transportasi publik seperti bus ,tram ,subway maka semakin sulit membedakan rupa para gelandangan dan bukan .

Sewaktu hamil Aisha tepatnya di bulan ketujuh kalau saya tidak salah ingat ,kami singgah di salah satu mall di Warsawa saat turun dari mobil saya sibuk muntah -muntah .Abu Aisha saya minta masuk saja sendiri ke toko bayi .Saat itu mata saya menyaksikan sendiri ada bapak berpenampilan rapi mengais-ngais  tong sampah .Alhamdulillah saya jadi tertegun, bersyukur bahwa kehidupan kami jauh lebih beruntung .

Si bapak melewati saya ,Alhamdulillah saat itu ada uang kertas zloty di tas kecil saya berikan kepada beliau  waktu lihat beliau naruh roti -roti sisa di tas kresek.

Waktu Abu Aisha keluar dari toko lihat saya nangis disangkanya karena muntah -muntah .Saya sampai langsung cium tangan suami bahwa walaupun sulit tapi saya tidak sampai hidup kekurangan di negeri ini .

****

Beberapa hari kemarin tanpa sengaja kami berpapasan dengan perempuan tua yang kumuh sekali tapi bukan pengemis . Beberapa tas kresek ada di kanan kiri.Ini pertama kali saya lihat pemandangan macam ini di Haugesund . Kalau di Jablonna sudah sering nenek tua mencel bel apartemen.

Lantaran ini saya berdiskusi dengan Abu Aisha yang memang sudah cukup lama merantau di Norwegia. Imej tentang Norwegia bagi saya selalu yang bagus-bagus . Sampai saat ini pun tetap sama dalam hal kesejahteraan penduduk makanya penasaran juga tentang kehidupan homeless disini.

Norwegia identik sebagai salah satu negara dengan penduduk paling bahagia , Global Peace Index tertinggi, negara dengan Human Development Index tertinggi , belum lagi negara dengan kategori paling nyaman untuk ibu dan anak .Dan satu hal yang sering didiskusikan yakni Global Gender Inequality , Norwegia masih memegang posisi sebagai negara untuk kesetaraan gender terbaik serta yang paling membuat diri bercermin Norwegia merupakan salah satu negara dengan tingkat korupsi terendah dari berdasarkan  Corruption Perception  Index. Mungkin ini membuat saya iri kuadrat , kapan tanah air saya bisa mendapkat persepsi ini juga ? -_-

Kata Abu Aisha jarang menemukan produsen berbohong kepada konsumen .Ini karena beliau sendiri yang pernah mengalami order barang secara online dan ternyata ada yang rusak , langsung dikembalikan dan ternyata dikirim ulang produk yang baru dan sesuai .

Bicara fasilitas , jempol buat Norwegia . Standar pelayanan jangan ditanya . Saat buat kartu izin tinggal , saya nggak nyangka datang ke kantor polisi , masukin berkas-berkas , ambil foto dengan mesin beberapa menit langsung selesai . Terima kartunya di rumah dikirim lewat kantor pos .

Anda pasti sudah pernah baca mengenai tunjangan sosial bagi yang tidak bekerja serta tunjangan anak dan lainnya yang suka bikin iri .Atau jatah cuti melahirkan untuk ibu dan ayah ( nggak melahirkan ya tapi berperan serta merawat bayi :D ) .Semua hal ini sudah menjadi standar bagi rakyat Norwegia termasuk kami yang merantau disini.

Saya jadi bertanya-tanya seperti apa batas garis kemiskinan di tanah Viking ini ?

Perlu kita tahu bahwa disini orang yang bekerja dengan penghasilan rendah  kategorinya sedikit karena peraturan mengenai upah minimum sangat ketat .Hal inilah yang menjadi alasan kuat mengapa banyak pekerja asal Polandia bekerja disini termasuk suami.

Sedangkan orang-orang yang datang dan kerja secara ilegal tanpa surat-surat resmi yang banyak mengalami ini , upah yang kecil dan tentu saja mereka tidak membayar pajak .


Satu hal perlu kita pahami bahwa Pajak dan Biaya Hidup  di Norwegia sangat tinggi bahasa lain dari   Sangat Mahal .

Kondisi-kondisi ini tak ayal melahirkan para homeless.Bayangkan saja untuk biaya sewa flat standar separuh gaji hilang , belum lagi hitung-hitungan pajak , harga makanan yang cukup mahal.Orang-orang yang upahnya rendah atau sama sekali tidak berpenghasilan yang berpotensi menjadi homeless.Alhamdulillah kami tidak sampai jadi homeless disini :D

Kebanyakan  kategori miskin  ini ditemui pada keluarga  dengan anak yang masih kecil-kecil , single parent ( ibu atau bapak saja ) , keluarga imigran , penerima bantuan sosial ( kami juga masuk kategori ini sewaktu Abu Aisha kehilangan pekerjaan , dan penerima bantuan jaminan sosial ( para disable ,pengangguran dan para pecandu alkohol )

Demikian saudara rupa homeless di Eropa dalam hal ini Polandia dan Norwegia ,dua negara tempat saya merantau .

Jangan bayangkan hidup enak seperti turis yang hanya jalan-jalan .Patutlah kita bersyukur pada apa yang kita miliki .Semakin kita bersyukur semakin kita belajar melihat hidup dengan jernih

Raidah Athirah

Haugesund,Norwegia

Berbagi Sampai Ke Negeri Sang Paulus , Polandia

Allah Ta’ala berfirman : “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adala...