Rasa Syukur dan Cemburu di Sosial Media
Oleh : Raidah Athirah
****
Tak bisa dipungkiri masuknya era sosial media membawa dampak yang luar biasa kepada hati manusia .
Sudah hukum alam sejak berabad-abad lalu hati manusia kadang dilanda cemburu .Bahkan sejak nabi Adam alaihi salam diciptakan ,kecemburuan itu telah hadir yang diprakarsai oleh syaitan.
Di era digital kecemburuan itu hadir dan semakin terbuka manakala beraneka macam tingkah pola manusia muncul dalam genggaman namun tak bisa kita miliki . Bila tak meletakkan pondasi keyakinan bahwa semua rezeki makhluk telah tertulis niscaya hati kita dilanda gelisah.Kita lupa bahwa itu adalah strategi syaitan yang disematkan pada kata " cemburu " .Akhir dari ini kemudian mengendap menjadi iri hati yang amat sangat .
Ya saudara ....Tak ada gunanya iri .Apa yang sudah dituliskan Allah Subhana wa Ta 'ala kepada kita tak akan bisa diambil orang lain.
Tugas kita adalah berikhitiar sebaik mungkin dan kemudian memasrahkan diri kepada Allah ,Tuhan Yang Maha Merajai .
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
“Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah Pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepada kamu dari langit dan bumi?” (QS. Fathir: 3)
Hal ini yang kadang kita lupakan .Hari-hari kita gelisah .Galau tak henti-henti .Betapa beruntungnya Mbak Raidah ! Pengen bangat hidup kayak dia ! Pengen jadi ibu rumah tangga ! Wah hebat ya jadi penulis ! Keren ya punya suami bule ! Dan segudang pernyataan yang melahirkan pengandaian .
Kita lupa tentang hari -hari perjuangan yang orang -orang sukses lalui .Kita tak paham bahwa orang-orang besar lahir dengan sebuah jalan asahan yang kadang berliku .Kita belum paham bahwa orang -orang sholeh itu menghabiskan hari penuh amal sholeh di luar dari kebanyakan manusia.
Saat membaca kisah romantis sebuah pasangan ,kita cemburu .Perasaan membandingkan mulai hadir .Saat melihat foto teman yang sedang berlibur ,kita cemburu .Saat memandang foto orang-orang yang selalu tersenyum ,kita cemburu .Memandang beraneka ragam masakan ,kita mencibir .Seperti sesak yang tiada henti.Bahagia tak ada karena hati kita sibuk memikirkan kehidupan orang lain .Untuk apa ?
Kapan hati kita tenang ? Hanya ada satu jalan , bersyukur .Itu saja ! Kecemburuan yang diperbolehkan adalah kecemburuan kepada kebaikan . Saya dan Abu Aisha sering berdiskusi bahwa benar hati kami kadang diliputi cemburu manakala ada saudara yang membutuhkan pertolongan namun langkah kami terbatas .Kami cemburu kepada saudara yang dengan tulus ikhlas semata karena Allah begitu dekat dengan anak yatim.
Abu Aisha sering berkata bahwa beliau begitu cemburu kepada saudara yang dekat rumahnya dengan masjid .Bagaimana tidak , untuk shalat jamaah saja beliau harus berjuang menyetir di musim dingin .Belum lagi bila tak ada waktu libur , beliau hanya bisa shalat di waktu-waktu istirahat karena pekerjaan fisik yang berat dan kondisi tempat kerja yang tak memungkinkan.
Saat beliau berkata seperti itu saya jadi semakin merindukan tanah air .Betapa sebuah karunia terlahir dan besar di rahim ibu pertiwi .Rasa syukur itu yang kami pelajari .Setiap rumah punya cerita masing-masing.Mustahil isi rumah selalu ada tawa , sudah merupakan ketetapan bahwa ada masanya turun hujan ,dan pasti datang panas mentari .
Saya berterimah kasih kepada sebagian orang yang membagikan kisah mereka ,yang dengan itu saya bersyukur betapa Allah Maha Adil .Hanya saja terkadang kita belum sampai pada hikmah hidup karena terlalu banyak kecemburuan yang tidak pantas .
Itulah mengapa saya mendidik hati ketika mulai bergaul di sosial media .Melihat kebahagian teman ,secepat mungkin saya mengucap doa "Allahumma Barik Lahu ,Allahumma Barik Lakum ,BarakAllahu fiik "
Mengapa harus berdoa ? Agar syaitan tak sampai membisik cemburu yang berujung iri yang kuat .
Doa dan rasa syukur adalah dua kunci penting ketika kita mulai berada di kehidupan sosial media .Mendoakan saudara kita .Apa yang orang lain perbuat diluar kendali kita .Apa yang ada dalam diri kita adalah kuasa kita yang nantinya akan kita pertanggung jawabkan di hadapan Allah .
Perjalanan ini terlalu singkat hanya untuk mengutuk dan meratapi nikmat yang tak bisa kita raih.Terlalu banyak nikmat yang sering kali dilupakan .Kesehatan ,keluarga ,tetangga yang baik ,lingkungan yang bersih dan nikmat yang utama adalah Iman dan Islam .
Bila hati kita tak sanggup membendung arus godaan sosial media ,ambillah jarak barang sebentar .Tanyakan kembali ke relung hati yang terdalam .Mengapa saya berada disini ? Untuk apa ? Bila tak ada Allah dalam hati , perlu kita mencerca diri kita .Tanyakan kembali , setiap waktu dan kesempatan yang Allah karuniakan ,bagaimana nanti dipertanggung jawabkan ?
Tanamkan dalam-dalam .Yang terdalam , kuat sampai menancap dalam keyakinan dan berbuah dalam laku bahwa perjalanan kehidupan adalah jembatan .Tujuan yang hakiki adalah keridhoan Allah semata.Lantas , untuk apa cemburu ?
Renungkan lagi ! Yakin bahwa rezeki tak akan tertukar karena ada Allah, Tuhan Yang Maha Adil , Dia Rabb Yang Maha Cermat .
“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Fathir: 2).
Raidah Athirah
Haugesund, Norwegia