Sabtu, 16 Desember 2017

Berbagi Sampai Ke Negeri Sang Paulus , Polandia






Allah Ta’ala berfirman : “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji,. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah maha luas (kurnia-Nya) lagi maha mengetahui”. (Q.S.Al Baqarah: 261)


****

                                                   SHARING BRINGS HAPPINESS 


Saya, Raidah Athirah .Ini kisah perjalanan hidup  yang ingin saya bagi kepada saudara di tanah air.Kaki saya menapak disini tapi semangat menjadi relawan terlahir pertama kali di ibu pertiwi .Hari ini saya bergabung dengan orang-orang yang memiliki kesamaan tujuan, berbagi .Ada kegiatan setiap hari minggu untuk membagikan makanan atau pakaian layak pakai di sekitaran Warsawa , ibu kota Polandia.Banyak diantara wajah-wajah itu orang-orang yang mengungsi dari negara tetangga Ukraina,homeless dan pengemis.




Centrum Warsawa tempat dimana para relawan berkumpul setiap minggu untuk membagikan makanan dan pakaian
Saya adalah salah satu kaki diantara relawan ini.Bersama teman-teman dari India dan beberapa sahabat orang Polandia setiap hari minggu kami berkumpul di sini , di pusat kota Warsawa.Inilah jalan #MembentangKebaikan .Bagi kami setiap bulan adalah #BulanKemanusiaan.Setiap diri bisa menjadi #HeroJamanNow





Tiga belas tahun yang lalu  awal takdir mempertemukan saya dengan kaki ringkih yang tumbuh di keramaian jalanan kota kembang, Bandung .Lebih tepatnya anak-anak kuat yang hidup di sepanjang jalan Asia-Afrika ,di bawah jembatan yang menghubungkan sungai Citarum ke Masjid Raya .


Di tahun yang sama ,saya juga bekerja sebagai guru TK dengan bayaran dari mulai Rp 75.000 sampai meningkat menjadi Rp 150.000 .Semua saya niatkan untuk belajar dan menimbah pengalaman.


Sebagai seorang yang pernah hidup dalam pengungsian saya diajarkan akan satu prinsip bahwa berbagi menjadikan hati  kaya dan berarti .Saya percaya hanya orang-orang yang berhati kaya yang mengerti makna berbagi.

Sekalipun hidup serba pas-pasan niat yang ada dalam  diri hanya ingin belajar arti kehidupan dengan  tersambung bersama anak-anak yang besar di keramaian perjalanan.


Saya tinggal di Cimahi ,mengajar TK dari jam tujuh sampai jam sepuluh pagi .Pada pukul satu siang saya akan menaiki kereta ekonomi yang padat menuju Bandung kota .Tak ada yang meminta saya.Tak ada yang menyuruh saya .Saya bergerak karena saya tahu ada hal yang bisa saya berikan bukan hanya  tentang uang  tetapi tentang peradaban yakni mengajarkan mereka baca tulis.


Saya mendudukkan diri saya diantara mereka sebagai seorang kakak.Saya tidak bisa memberi mereka uang karena mereka sendiri telah terbiasa mendapatkan uang di jalanan.


Bukankah berbagi tidak selamanya tentang uang ? 


Saya berharap setidaknya dengan  mengajarkan mereka baca tulis ada setitik harapan kepada mereka  memandang dunia dan segala pernak-perniknya.


Setiap datang gajian ,saya akan mampir ke tempat kumuh dengan bau pesing yang menyengat.Memang apa yang saya berikan tak begitu berharga.Hanya buku tulis murah , pulpen,dan pensil disertai buku buku menggambar sisa yang saya bawa dari TK yang sudah dibuang.

Saya berharap kepada Allah ,Tuhan Yang Maha Rahman meridhoi apa yang saya lakukan.Saya merelakan diri sendirian kemudian seorang sahabat saya ikut bergabung untuk mengajar mereka.

Dalam masa kuliah di Pasundan pun saya meluangkan waktu mengunjungi mereka selepas mata kuliah selesai.Tak ada yang mengetahui aktivitas yang saya lakukan . Berbagi tanpa  nama,tanpa dukungan dan tanpa keramaian.Begitu terus sampai nadi saya menyatu dengan kehidupan jalanan yang keras tapi penuh ketulusan.


Di jalanan pula saya belajar banyak hal termasuk membeli buku-buku bekas yang bisa saya baca dan pada akhirnya saya memberanikan diri mengajar bahasa Inggris kepada adik kelas agar bisa menunjang  kehidupan ekonomi saya yang pas-pasan.

" Teteh...,nggak apa-apa beliin kami buku tulis ? Teteh jangan repot-repot ! Teteh ngajarin kami aja udah Alhamdulillah ," ucap anak jalanan bernama Ima yang sudah memasuki usia SMP.

Saya merindukan mereka ,merindukan adik-adik yang telah menjadi jalan bagi saya  hari ini menjejak di negeri Sang Paulus,Polandia.


Ingatan saya belumlah kering.Pernah datang masa kepada saya dimana seorang adik asuh yatim ingin sekali kembali ke desa menengok neneknya yang sudah sepuh .Ia ingin meminjam uang sebesar seratus ribu rupiah.Bagi saya di masa itu, uang   itu adalah angka yang sangat besar.Saya ingin mewujudkan mimpi itu tapi saya juga sangat terbatas untuk membantu.Saya benar-benar tak memiliki daya.


Dalam gerimis di sepanjang jalan Braga ,hati  mengadu kepada Allah ,Tuhan Yang Maha Kaya. Saya ingin sekali mewujudkan mimpi itu.Air dari langit menjadi saksi doa dalam sunyi yang penuh harap.

Saya menceritakan ini bukan untuk siapa-siapa.Bukan pula dipandang bak pahlawan.Kisah  ini saya  ceritakan  kembali untuk mengingat hati  yang rapuh . Mengingatkan hati saya bahwa betapa banyak nikmat yang saya dapatkan ketika saya berbagi.Sedikit sekali yang saya bagi.Demi Allah, sedikit sekali ! 


Bulan demi bulan berlalu.Ikhtiar ini biarlah langit yang menilai .Amat  sangat keras. Dalam kondisi ekonomi yang sangat terbatas karena saya juga bekerja untuk membiayai kuliah jadilah saya mencari donatur dengan menggunakan kemampuan saya dalam membuat laporan keuangan .


Saya pernah membuat proposal dan mengajukan ke beberapa instansi kota tapi kenyataan tak semudah dikata ,ada prosedur ,ada masa menunggu tanpa kepastian.Bulan berlalu dan tak ada dana yang cair. 


Saya menghapus air mata dalam masa menunggu kereta api saat kembali ke  Cimahi . Bening-bening tanda  ketidak berdayaan . Adik-adik saya tidaklah menuntut tapi saya selalu memegang apa yang saya pernah janjikan.



Berselancarlah saya ke dunia maya.Mengirim random proposal keuangan kepada beberapa email yang saya dapatkan di internet.Hanya berbekal niat berikhtiar .Kepasrahan sudah tertanam dalam hati,harapan ini saya gantungkan ke langit.


Ketika bulan suci Ramadhan tiba ,saya semakin dilanda gelisah.Tidak mudah meyakinkan siapa saja untuk ikut berbagi.Segala puji bagi Allah , satu keluarga Pakistan mengirimkan uang dalam jumlah yang sangat besar untuk ukuran saya saat itu yakni satu juta rupiah .


Ketika saya menerima uang itu saya tersedu-sedu.Saya bergegas menuju alun-alun kota Bandung, memberikan kepada mereka rezeki yang saya dapatkan.Saya semakin yakin bahwa Allah Maha Melihat ,Dia Tuhan Yang Maha Kuasa .Terkadang sebagian teman-teman kuliah  heran dengan langkah saya yang selalu menuju  alun-alun kota.

Tahun berlalu , keadaan ekonomi saya semakin membaik dengan banyaknya panggilan mengajar privat .Tawa adik-adik di jalanan menjadi semangat luar biasa bagi saya untuk belajar dan bekerja.Saya bahkan lupa dengan masalah saya sendiri.


Waktu berqurban datang dan jaminan Allah bahwa  Dia akan menolong orang-orang yang sabar dan yakin, benar adanya.Sebuah email datang kepada saya dari seorang yang sangat jauh.Jauh sekali .Jauh dari angan-angan masa kecil dan mimpi .

Seseorang dari tanah Eropa menghubungi saya .Beliau bersedia menjadi donatur  untuk program Qurban dan berlanjut untuk anak -anak Yatim di Cimahi .

Proposal yang saya kirimkan satu minggu yang lalu ternyata telah sampai kepada beliau.Dalam email balasan itu beliau menginformasikan perihal uang untuk anak-anak jalanan,uang Qurban dan anak-anak yatim.

Sempat muncul rasa khawatir ,mungkin saja ini hanya penipuan..Allah Tala pertemukan dengan jalan kebaikan.
Ketika saya mengecek akun saya di Bank BNI ada perasaan tak percaya ada yang berani mengirimkan uang dalam jumlah yang banyak hanya berdasarkan kepercayaan.Saya mengirimkan email balasan dengan melampirkan laporan keuangan penggunaan dana yang beliau berikan.


Janji saya kepada adik asuh tertunaikan.Saya dengan ikhtiar sederhana mempertemukannya dengan keluarga yang sudah lama tak jumpa.Neneknya yang tinggal di pelosok desa Jawa Barat akhirnya bisa bertemu dengan cucu yang beliau ingat masih berwajah bayi baru lahir.Bahagia apa yang bisa seperti ini ? 


****

Dengan jalan demikianlah Allah Yang Maha Memasangkan memperjalankan takdir . Setelah acara Qurban selesai saya dilamar oleh Sang Donatur , seorang mualaf dari keluarga Katolik dan Yahudi di Polandia.Betapa Allah Maha Besar membolak-balikkan keadaan.Di negeri ini pula saya masih menyimpan cita-cita bahwa suatu hari kelak hidup ini berarti bagi negeri .



Hari ini kaki saya menjejak bukanlah atas kebaikan saya melainkan  yakin Allah Ta'ala menjawab doa-doa orang yang tulus.



Apa yang hendak saya ceritakan lagi? Tidak ada ! Saudara harus menyadari ini dan menanamkan dalam diri bahwa berbagilah niscaya hati akan merasakan bahagia.Berbagi tidak perlu menunggu kaya .Berbagi tidak perlu menunggu .Lakukan saja ,niatkan bersama langit bahwa hidup ingin merasakan bahagia.








<a href="http://kemanusiaan.dompetdhuafa.org/lomba-blog/" target="_blank" rel="noopener"><img src="http://kemanusiaan.dompetdhuafa.org/wp-content/uploads/2017/11/banner-lomba-blog-bulan-kemanusiaan.gif" style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" /></a><br />




Rabu, 01 November 2017

Sastra Perantauan,Voice of Indonesia ; Merajut Mimpi dan Rindu Di Ibu Kota

Seperti mimpi saat saya membuka email pagi itu berdasarkan info dari sahabat Fesbuk.


Saya memang mengirimkan dua buah cerpen ke Bilik Sastra.Itu juga terburu-buru dan nggak maksimal.Maksudnya nggak maksimal karena saya nggak nyangka ternyata cerpen yang masuk itu dilombakan juga.


Kalau dalam ukuran saya pribadi mustahil ' menang' karena cerpen -cerpen yang lain bagus,lebih rapih dan tentu saja sudah dipersiapkan.




Saya pribadi mengenal Bilik Sastra atau disebut Sastra Perantauan ini sejak tahun 2015.Terlambat ,bukan ? Ini juga berdasarkan info dari teman sesama Fesbuk.

Allah Memang Maha Baik atau istilah sekarang  'Rezeki Nggak Kemana' mungkin pas untuk saya.


Ini bukan merendah tapi saya sama sekali tidak memiliki latar belakang penulis atau pembelajar sastra .Saya penggila sastra baik cerpen ,puisi maupun cerita novel . Sebagian besar karya -karya sastra saya baca dan nikmati.


Saya akhirnya menyuarakan gelisah  tentang pengungsi Suriah dan juga hidup perempuan Indonesia di rantau dalam tulisan.Saya belajar menulis sendiri di tengah kesibukan sebagai ibu rumah tangga dengan putri ' special ' .

Alhamdulillah keberuntungan datang .Kepingan mimpi itu kian nyata.

***
Saya dan RRI,Rajutan Mimpi Yang Terkabul 

Saya cerita sedikit masa lalu saya dan RRI.Tahun 1999 pasca konflik Maluku ,saya dan keluarga mengungsi ke Ternate .Hidup susah disana saya,  orang tua dan  keluarga jalani yang penting kami bisa selamat dan sekolah.



Di masa itu saya pengen sekali belajar bahasa Inggris tapi karena keterbatasan biaya ,saya memilih mengalah dan nggak mau hati ibu sedih memikirkan biaya kursus.


Berkenalan lah saya dengan RRI  .Di rumah pengungsi itu ada radio butut milik salah satu keluarga pengungsi dari Galela.Setiap sesi bahasa Inggris saya minta tolong untuk dipanggil agar bisa  mendengarkan siaran itu.

Begitu terus.Di malam hari apa yang saya dengarkan saya tulis kembali.Itulah sejarah hidup saya yang terhubung dengan RRI .


Mimpi saya waktu itu pengen sekali bisa masuk ke ruang RRI karena ada juga RRI di Ternate tapi sampai datang ke Jakarta dan berpindah ke Bandung memang belum waktunya doa saya terkabul.

Bahasa Inggris yang saya pelajari lewat media RRI menghubungkan masa depan dan mengantarkan saya hari ini berdiri di tanah Sang Paulus, Polandia.

Disamping studi ,saya belajar bahasa Inggris dan juga mengajar .Saya  bekerja paruh waktu sebagai guide freelance.Seperti mimpi saat saya membuka email pagi itu berdasarkan info dari sahabat Fesbuk.

Saya memang mengirimkan dua buah cerpen ke Bilik Sastra.Itu juga terburu-buru dan nggak maksimal.Maksudnya nggak maksimal karena saya nggak nyangka ternyata cerpen yang masuk itu dilombakan juga.

Kalau dalam ukuran saya pribadi mustahil ' menang' karena cerpen -cerpen yang lain bagus,lebih rapih dan tentu saja sudah dipersiapkan.

Saya pribadi mengenal Bilik Sastra atau disebut Sastra Perantauan ini sejak tahun 2015.Terlambat ,bukan ? Ini juga berdasarkan info dari teman sesama Fesbuk.

Allah Memang Maha Baik atau istilah Rezeki Nggak Kemana mungkin pas untuk saya.

Ini bukan merendah tapi saya sama sekali tidak memiliki latar belakang penulis atau pembelajar sastra .Saya penggila sastra baik cerpen ,puisi maupun cerita novel . Sebagian besar karya -karya sastra saya baca dan nikmati.

Saya akhirnya menyuarakan gelisah  tentang pengungsi Suriah dan juga hidup perempuan Indonesia di rantau dalam tulisan.Saya belajar menulis sendiri di tengah kesibukan sebagai ibu rumah tangga dengan putri ' special ' .

Alhamdulillah keberuntungan datang .Kepingan mimpi itu kian nyata.

***
Saya dan RRI

Saya cerita sedikit masa lalu saya dan RRI.Tahun 1999 pasca konflik Maluku ,saya dan keluarga mengungsi ke Ternate .Hidup susah disana saya,  orang tua dan  keluarga jalani yang penting kami bisa selamat dan sekolah.

Di masa itu saya pengen sekali belajar bahasa Inggris tapi karena keterbatasan biaya ,saya memilih mengalah dan nggak mau hati ibu sedih memikirkan biaya kursus.

Berkenalan lah saya dengan RRI  .Di rumah pengungsi itu ada radio butut milik salah satu keluarga pengungsi dari Galela.Setiap sesi bahasa Inggris saya minta tolong untuk dipanggil agar bisa  mendengarkan siaran itu.

Begitu terus.Di malam hari apa yang saya dengarkan saya tulis kembali.Itulah sejarah hidup saya yang terhubung dengan RRI .

Mimpi saya waktu itu pengen sekali bisa masuk ke ruang RRI karena ada juga RRI di Ternate tapi sampai datang ke Jakarta dan berpindah ke Bandung memang belum waktunya doa saya terkabul.

Bahasa Inggris yang saya pelajari lewat media RRI menghubungkan masa depan dan mengantarkan saya hari ini berdiri di tanah Sang Paulus, Polandia.

Disamping studi ,saya belajar bahasa Inggris dan juga mengajar .Saya  bekerja paruh waktu sebagai guide freelance untuk menambah biaya kuliah waktu itu.


Ah,saya percaya kata- kata adalah doa.Dan doa itu menjelma nyata.Ia memanggil saya melihat mimpi-mimpi yang dulu saya angankan.

Kembali ke email pemberitahuan, saya masih nggak percaya sewaktu Mbak Dora dan Mbak Wati dari Voice of Indonesia ngasih info di inbox untuk melakukan konfirmasi.Saya berdiri gemetar selepas mengantar putri saya ke sekolah.

" Beneran ini ?" Hahahha, saya menertawakan diri saya sendiri.Kayak orang gila iya πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„


Seumur-umur ,ini kedua kali saya merasa gelisah , gemetar 😰😰😰😡😡 kayak dulu pertama kali Juragan datang ke Indonesia untuk meminang saya .Siapalah saya hanya bumbu masak ini .Hahahha 🀣🀣🀣

Setelah diskusi dan dipertimbangkan masak-masak Juragan ( Pak suami) dengan  hati ikhlas mengizinkan saya ke Jakarta untuk menghadiri ' Penganugerahan Bilik Sastra Award 2017 ' .

" Alhamdulillah Ya Allah ..."

Ternyata kejutan-kejutan dan lipatan kebaikan sudah menunggu.

***

Hari Keberangkatan Ke Tanah Air

Entah mengapa walaupun belum pernah berjumpa sosok Mbak Dora dan Mbak Wati bagi saya sudah seperti sahabat.Kedua beliau ini yang membuat saya memantapkan hati datang ke Jakarta.


Awalanya saya agak ragu ,mengingat jadwal terapi putri saya yang sudah disiapkan.Alhamdulillah Pak Suami berkenan menggantikan peran saya selama seminggu.

" DziΔ™kujΔ™ bardzo , kochanie ! "

Tiket pesawat bahkan sudah dipesan oleh mereka .Ya Allah ...terharu sekali, tanpa saya minta tiket PP  sudah dikirim ke email.

Jujur saja ya πŸ˜„ πŸ˜ƒπŸ˜€ dari dulu saya emang pengen bangat ngerasain gimana naik pesawat salah satu maskapai  Timur Tengah yang katanya berkelas itu.Etihad, Emirates udah, KLM apalagi.Ini kaya dapat durian runtuh.

Pas ngecek email trus liat nama maskapai .

" Masyah Allah...,kagak salah nih saya dikasih Qatar ! " Hihihi noraknya keluar .πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„

Saya emang dalam hati udah berdoa
"  Ya Allah ...Jangan kasih saya singgah di Frankfurt ." Alhamdulillah doa saya terkabul tanpa nyebutin pun Allah Maha Tahu saya pengen ngerasain transit di Doha.Jadilah saya transit di Hamad Internasional Airport , Doha.Markasnya pesawat Qatar.

Perjalanan dengan total 24 jam itu ternyata nggak seserem yang saya takuti.Namanya juga baru pertama kali terbang tanpa Juragan alias Abu Aisha πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€ Norak-norak gimana gituh.Hehehe

Warsawa-Doha = 5 jam

Transit                = 10 jam

Doha - Jakarta   = 9 jam

Di Bandara Doha

Dibandingkan bandara Dubai entahlah hati saya kok tertambat disini,HIA ( Hamad Internasional Airport ) .Emang lebih gede ya bandara Dubai tapi punya Qatar ini nggak kalah oke ya.Setidaknya saya nggak jadi ' pengemis WiFi ' atau termasuk ' para pemburu WiFi ' wong available 24 jam nonstop.



Palingan yang stop itu ya baterai yang sudah kelelahan cekrek-cekrek mulu.Selfi juga daku lakuin bukan untuk dipamerin tapi buat dikirim via WA ke Juragan sebagai alat bukti kalau istrinya yang orang Indonesia ini  Alhamdulillah selamat ,aman , sejahtera wkwkwkwk udah kayak mau pidato😁😁😁.

Rencana awalnya mau ikutan Doha City Tour yang gratis itu .Pas nyampe di meja pendaftaran bayangan saya langsung hilang .Hahahaha antriannya udah kayak ular piton ; panjang kali lebar .Saya yang ukuran mini ini hilanglah ditelan kerumunan para bule pemburu Doha City Tour.

Lagian tiba-tiba panggilan alam menyala.Udah aja melimpir ke toilet sekalian bersih-bersih .Mengalah saja .Dan bayangan saya pun kembali muncul πŸ˜ŽπŸ˜ŽπŸ˜ŽπŸ˜ƒπŸ˜„πŸ˜„

Toilet nya keren euy.Luas dan harum .Ternyata di samping toilet ada prayer room juga.Komplit udah.

Wudhu jangan ditoilet ya .Ada kok tempat wudhu nyaman di ruangan yang diperuntukkan hanya  untuk wanita /gadis/akhwat /ibu pokoknya yang berjenis kelamin perempuan.

Selesai bersih-bersih,wudhu dan shalat saya istirahat setengah jam di ruangan shalat.Ada  ruangan khusus untuk tidur namanya Family  Quite room .Tapi karena udah lelah ya udah saya istirahatkan badan saya yang sempoyongan ini dan baca Qur'an .

Nggak kerasa ternyata waktu cepat berlalu.Tiga jam sebelum gate dibuka saya tengok papan pengumuman.Ternyata penerbangan dari Doha ke Jakarta bukan di gate B melainkan gate D.Daripada bingung ilmu malu bertanya sesat di jalan keluar juga.Bertanyalah saya ke salah satu petugas yang sedang berdiri di sisi bandara megah itu.

" Excuse me ,Sir ...,Which way I should take to go to gate E23 ?" Petugas melototin saya dulu .Mungkin dalam hatinya ini kurcaci dari mana .Hahahahha 🀣🀣🀣. Petugasnya emang tinggi besar kayak Pak Saumi.Alhamdulillah senyum dia.Not too bad , friends ! 😎

Ini saran saya ya kalau di Bandara Doha mendingan jangan nanya cleaning service atau potter.Informasinya menyesatkan .Saya waktu itu nanya Quite room eh dia ngarahin saya justru ke gate penerbangan .Padahal saya udah kasih kode bahasa isyarat tangan di pipi ,kepala miring sedikit alias tanda ngantuk berat.Hahahha mungkin dia pikir saya udah mau boarding kali.

Alhamdulillah sekalipun nggak ada petugas ikutin aja plang petunjuk Insyah Allah nggak akan jadi anak ilang.Setelah naik kereta cepat sekali sampailah di gate yang dimaksud dan menunggu diberangkatkan ke ibu kota.

***

Langit Ibu Kota

Ada banyak hal yang ingin saya ceritain selama terbang dengan burung besi milik Qatar ini.Insyah Allah lain waktu aja ya.

Setelah terombang ambing selama 9 jam diangkasa mimpi saya ingin menjejak di ibu kota semakin nyata.Alhamdulillah tiba dengan selamat.

Hal yang saya ucapkan pertama kali adalah kalimat takbir

" Maha Besar Engkau Ya Allah ! "

Setelah melewati pengecekan petugas imigrasi ,kaki saya melangkah ke pengambilan bagasi.Hp saya hidupkan dan Alhamdulillah sudah ada WiFi di bandara walaupun sinyalnya pulang-pergi juga .

Panggilan masuk dari Bu Unun tertera di layar . Tiba-tiba berdering lagi .Ternyata dari Mbak Wati,sahabat Fesbukku.Masyah Allah beliau sudah menunggu di luar.

Setelah menunggu kemunculan tas hitam yang berapa kali salah ngambil,rezeki saya datang.Ada aja yang bantuin padahal muka saya udah kusut nggak ada senyum-senyumnya mungkin pengaruh keju Polandia dan hawa dingin . Hihihihi  .

Mau ketemu Mbak Wati dari Voice of Indonesia bukannya senang malah gugup 😁😁😁. MasyahAllah beliau udah nunggu di luar .Saya melewati petugas bea cukai bandara udah kayak jalan tol bebas hambatan.Masyah Allah ditolong lagi dorong stroller karena kegugupan saya itu.

Dan taraaaaaa .... Masyah Allah tiba-tiba ada yang narik tangan saya dan berpelukanlah kami,saya dan Mbak Wati.πŸ€—πŸ€—πŸ€—.Terharu ya datang dijemput dan dipeluk sedemikian rupa.



Ini pengalaman pertama ya bertemu dengan Mbak Wati . Nggak tahu kenapa ke Mbak Wati ini udah kayak sahabat kenal lama.Ini kesan pertama dan ternyata masih ada lagi keseruan lain.

Hawa panas, denyut keramaian ibu kota dan manusia-manusia ibu pertiwi dengan warna hidup mereka terlihat nyata.

Kami dijemput Mas Tono ,yang well..., apa semua orang di Voice of Indonesia,Bilik Sastra begini ? Udah kayak saudara,gaes ! Ramah dan baik sekali.

Saya mengikuti Mbak Wati singgah di masjid dekat bandara . Alhamdulillah bisa bersujud ,mengucap syukur atas rahmatNya dipertemukan dengan orang-orang yang hati kami saling bertaut seperti keluarga.

Sebelum berangkat ,saya sempat galau bahkan berpikir bahwa saya pasti merasakan perasaan ini ;

" Terasing di negeri sendiri ."

Tapi setelah takdir pertemuan ini saya dibukakan hati dengan sosok-sosok yang lain.Semangat saya kembali.Syukur itu hadir.

Kemacetan ibu kota sudah bukan masalah.Saya  dan Mbak Wati   dianter Mas Tono melaju dengan mobil menuju titik pertemuan dengan sahabat pemenang Bilik Sastra yang lain.

Ketika tiba di hotel Holiday inn Express ,Bu Unun sudah hadir dan kedua sahabat saya dari negeri rantau yang lain pun sudah tiba duluan dari saya.




Masyah Allah sudah tak bisa saya gambarkan perasaan saya saat itu.Saya jadi ingat pesan Pak suami sebelum berangkat ;

" Jangan khawatir ,bahagia dan nikmati persahabatan di tanah airmu !"

Saya memperkenalkan diri dan memeluk satu persatu.Saya jadi belajar dari Mbak Nila , perempuan luar biasa bersahaja .Keceriaan Mbak Etty juga menginspirasi saya untuk menjadi diri saya apa adanya.

Sejak tinggal di Polandia saya memang sudah jarang senyum.Gimana mau senyum kalau salah senyum disangka orang gila .Hehehehe .

Setelah menaruh tas dan semua peralatan tempur πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€ kami diajak Bu Unun,Mas Tono dan Mbak Wati ke rumah makan dan juga bertemu Ibu kami tercinta,Ibu Rita ...Masyah Allah cantik dan keibuan sekali beliau.

Kalau perut bisa dinegoπŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„ semua pengen disantap.Hahahha udah kayak orang kalap.Maklumlah lama nggak ngebakso dan nge-padang.Apaan tuh ? Itu makan bakso ama nasi Padang.

Doa juragan ampuh juga,Masyah Allah !

" Nikmati ya kochana 😘 ! "

" Siaaap Juragan ...."

Pulanglah kami diantar Pak Sapto ke hotel untuk persiapan Penganugerahan Bilik Sastra Award besok tanggal 21 Oktober 2017.

***

Penganugerahan Bilik Sastra ,Keping Mimpi yang Terkabul

Entah saya harus mulai darimana menggambarkan uluran kehangatan dan rasa kekeluargaan dari sosok-sosok di ruang Voice of Indonesia, Program Bilik Sastra .

Saya memang kepengin sekali make batik di acara penganugerahan Bilik Sastra  tapi karena kendala beberapa hal saya nggak jadi beli.Ada dijual disini ( Polandia ) tapi harganya mahal sekali .

Nggak nyangka ternyata Bu Rita dan tim Bilik Sastra sudah mempersiapkan dan warnanya itu Masyah Allah.Ukurannya juga pas ❤️❤️❤️.Jadilah saya berbatik ria .

Nikmat mana lagi yang saya dustakan ?

Ketika suara adzan berkumandang ,saya terbangun dan air mata saya tumpah.Setelah sekian lama saya mendengar kembali panggilan itu di ibu kota,di tanah saya lahir dan dibesarkan.

Usai shalat subuh ,saya mempersiapkan diri dan  kemudian menuju ruang makan hotel.Saya bertemu lagi dengan Mbak Wati,Bu Unun dan kedua sahabat saya .

Sebelum menjejak di ruang Voice of Indonesia, Program Bilik Sastra ,Bu Unun masih mengantar kami jalan-jalan ke museum Indonesia. Langkah kami menelusuri sejarah bangsa dan leluhur tidak lupa kami abadikan di ponsel kamera masing-masing.

Dan waktu itu pun tiba.Masyah Allah sekian lama merantau,sembuh dari depresi tidak menyangka Allah memperjalankan rindu dan mimpi ini menjadi satu kepingan utuh di ibu kota.

Kami dilayani dan disambut bak orang penting.Hahahaha.Maklumlah selama ini saya cuma kerja sebagai Ibu rumah tangga atau Inem di rumah sendiri 😁😁😁.

Langkah kaki ke ruangan itu semakin buat saya gugup.Orang-orang luar biasa sudah ada disana.Orang-orang hebat dan juga penting.

Untuk pertama kalinya saya bertemu dan mendengar langsung suara Mbak Enggar yang selalu membacakan cerpen Bilik Sastra . Masyah Allah bukan suaranya aja yang cantik ,orangnya juga😍😍😍.Sayang,saya sama sekali tak punya kesempatan untuk ngobrol atau menyapa Mbak cantik itu .

Saya juga penasaran dengan sosok Mbak Dora.Mbak say yang nggak lelah nyemangatin ,ngasih info bahkan ngasih hadiah batik buat Aisha.Love you all team Voice of Indonesia , Program Bilik Sastra .Terimah kasih ,Tuhan sudah mengizinkan saya bertemu dengan keluarga dan saudara sebangsa .Darah saya selamanya Merah -Putih !

Kini saya tahu bahwa galau saya tak beralasan .Hahahaha .Galau mulu emang.

Di Panggung Kehormatan

Saya juga terharu  redaktur dan sahabat Islampos berkenan hadir jauh-jauh dari Purwakarta.Ada sahabat istimewa saya dari Jakarta ,Mbak Eka dan adik se geng,seperjuangan di Bandung dulu bahkan sahabat Fesbuk yang saya juga nggak tahu nama,Mbak Tata .. MasyahAllah . Barakallahu fiikum ,saya berbangga mengenal kalian semua.

Setelah acara makan , pembacaan cerpen pun dimulai.Saya bismillah aja .Mau gimana nanti.Hahahaha ,nggak ada persiapan.Maklum ibu rumah tangga ,alasan mulu πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€.





Saat saya ditakdirkan duduk di samping Teh Pipiet Senja kalau nggak ingat keberadaan saya di atas panggung udah mau nangis-nangis ngeliat beliau.Masyah Allah inspirator saya saat saya berada di pengungsian.Maha Suci Allah,saya dipertemukan dan diberi ruang duduk di dekat beliau,menyentuh tangan keibuan beliau dan dalam hati saya bertakbir

" Maha Besar Engkau Ya Rabb untuk nikmat ini ."

Nggak cukup saya tuliskan disini ruang-ruang mimpi dan kepingan rindu saya yang menjadi nyata.

Luar biasa sekali bertemu dengan wajah-wajah para penulis Sastra yang hebat.Saya jadi belajar dari Uni Sastry ,Pak Yunus,Pak Irwan dan bakalan panjang sekali kalau saya uraikan.

Saya ,Raidah Athirah ingin mengucapkan terimakasih kepada tim Voice of Indonesia , Program Bilik Sastra .Terimah kasih menjadi jembatan saya merajut kepingan rindu dan mimpi di ibu kota setelah sekian tahun di rantau.Semoga kebaikan dan silahtuhrahmi ini bertaut di lain masa.


****

Saran saya kepada tim Voice of Indonesia , Program Bilik Sastra agar membuka lagi ruang sastra yang lain yakni puisi agar sahabat -sahabat saya yang memang jago menyuarakan kisah hidup mereka lewat syair-syair kata bisa tersalurkan.

Meskipun demikian saya pribadi berbangga  dan sangat berterima kasih untuk ruang yang  Voice of Indonesia Bilik Sastra buka kepada kami anak negeri yang dirantau.Tuhan memberkahi semangat dan kebaikan kalian .Semoga saya diizinkan berjumpa lagi dengan Mbak Wati,Bu Rita,Mbak Dora ,Mas Tono ,Bu Unun dan Mbak Enggar yang sapa saya belum tertunai.











 untuk menambah biaya kuliah waktu itu.

Ah,saya percaya kata- kata adalah doa.Dan doa itu menjelma nyata.Ia memanggil saya melihat mimpi-mimpi yang dulu saya angankan.

Kembali ke email pemberitahuan, saya masih nggak percaya sewaktu Mbak Dora dan Mbak Wati dari Voice of Indonesia ngasih info di inbox untuk melakukan konfirmasi.Saya berdiri gemetar selepas mengantar putri saya ke sekolah.

" Beneran ini ?" Hahahha, saya menertawakan diri saya sendiri.Kayak orang gila iya πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„

Seumur-umur ,ini kedua kali saya merasa gelisah , gemetar 😰😰😰😡😡 kayak dulu pertama kali Juragan datang ke Indonesia untuk meminang saya .Siapalah saya hanya bumbu masak ini .Hahahha 🀣🀣🀣

Setelah diskusi dan dipertimbangkan masak-masak Juragan ( Pak suami) dengan  hati ikhlas mengizinkan saya ke Jakarta untuk menghadiri ' Penganugerahan Bilik Sastra Award 2017 ' .

" Alhamdulillah Ya Allah ..."

Ternyata kejutan-kejutan dan lipatan kebaikan sudah menunggu.

***

Hari Keberangkatan Ke Tanah Air

Entah mengapa walaupun belum pernah berjumpa sosok Mbak Dora dan Mbak Wati bagi saya sudah seperti sahabat.Kedua beliau ini yang membuat saya memantapkan hati datang ke Jakarta.

Awalanya saya agak ragu ,mengingat jadwal terapi putri saya yang sudah disiapkan.Alhamdulillah Pak Suami berkenan menggantikan peran saya selama seminggu.

" DziΔ™kujΔ™ bardzo , kochanie ! "

Tiket pesawat bahkan sudah dipesan oleh mereka .Ya Allah ...terharu sekali, tanpa saya minta tiket PP  sudah dikirim ke email.

Jujur saja ya πŸ˜„ πŸ˜ƒπŸ˜€ dari dulu saya emang pengen bangat ngerasain gimana naik pesawat salah satu maskapai  Timur Tengah yang katanya berkelas itu.Etihad, Emirates udah, KLM apalagi.Ini kaya dapat durian runtuh.

Pas ngecek email trus liat nama maskapai .

" Masyah Allah...,kagak salah nih saya dikasih Qatar ! " Hihihi noraknya keluar .πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„

Saya emang dalam hati udah berdoa
"  Ya Allah ...Jangan kasih saya singgah di Frankfurt ." Alhamdulillah doa saya terkabul tanpa nyebutin pun Allah Maha Tahu saya pengen ngerasain transit di Doha.Jadilah saya transit di Hamad Internasional Airport , Doha.Markasnya pesawat Qatar.

Perjalanan dengan total 24 jam itu ternyata nggak seserem yang saya takuti.Namanya juga baru pertama kali terbang tanpa Juragan alias Abu Aisha πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€ Norak-norak gimana gituh.Hehehe

Warsawa-Doha = 5 jam

Transit                = 10 jam

Doha - Jakarta   = 9 jam

Di Bandara Doha

Dibandingkan bandara Dubai entahlah hati saya kok tertambat disini,HIA ( Hamad Internasional Airport ) .Emang lebih gede ya bandara Dubai tapi punya Qatar ini nggak kalah oke ya.Setidaknya saya nggak jadi ' pengemis WiFi ' atau termasuk ' para pemburu WiFi ' wong available 24 jam nonstop.

Palingan yang stop itu ya baterai yang sudah kelelahan cekrek-cekrek mulu.Selfi juga daku lakuin bukan untuk dipamerin tapi buat dikirim via WA ke Juragan sebagai alat bukti kalau istrinya yang orang Indonesia ini  Alhamdulillah selamat ,aman , sejahtera wkwkwkwk udah kayak mau pidato😁😁😁.

Rencana awalnya mau ikutan Doha City Tour yang gratis itu .Pas nyampe di meja pendaftaran bayangan saya langsung hilang .Hahahaha antriannya udah kayak ular piton ; panjang kali lebar .Saya yang ukuran mini ini hilanglah ditelan kerumunan para bule pemburu Doha City Tour.

Lagian tiba-tiba panggilan alam menyala.Udah aja melimpir ke toilet sekalian bersih-bersih .Mengalah saja .Dan bayangan saya pun kembali muncul πŸ˜ŽπŸ˜ŽπŸ˜ŽπŸ˜ƒπŸ˜„πŸ˜„

Toilet nya keren euy.Luas dan harum .Ternyata di samping toilet ada prayer room juga.Komplit udah.

Wudhu jangan ditoilet ya .Ada kok tempat wudhu nyaman di ruangan yang diperuntukkan hanya  untuk wanita /gadis/akhwat /ibu pokoknya yang berjenis kelamin perempuan.

Selesai bersih-bersih,wudhu dan shalat saya istirahat setengah jam di ruangan shalat.Ada  ruangan khusus untuk tidur namanya Family  Quite room .Tapi karena udah lelah ya udah saya istirahatkan badan saya yang sempoyongan ini dan baca Qur'an .

Nggak kerasa ternyata waktu cepat berlalu.Tiga jam sebelum gate dibuka saya tengok papan pengumuman.Ternyata penerbangan dari Doha ke Jakarta bukan di gate B melainkan gate D.Daripada bingung ilmu malu bertanya sesat di jalan keluar juga.Bertanyalah saya ke salah satu petugas yang sedang berdiri di sisi bandara megah itu.

" Excuse me ,Sir ...,Which way I should take to go to gate E23 ?" Petugas melototin saya dulu .Mungkin dalam hatinya ini kurcaci dari mana .Hahahahha 🀣🀣🀣. Petugasnya emang tinggi besar kayak Pak Saumi.Alhamdulillah senyum dia.Not too bad , friends ! 😎

Ini saran saya ya kalau di Bandara Doha mendingan jangan nanya cleaning service atau potter.Informasinya menyesatkan .Saya waktu itu nanya Quite room eh dia ngarahin saya justru ke gate penerbangan .Padahal saya udah kasih kode bahasa isyarat tangan di pipi ,kepala miring sedikit alias tanda ngantuk berat.Hahahha mungkin dia pikir saya udah mau boarding kali.

Alhamdulillah sekalipun nggak ada petugas ikutin aja plang petunjuk Insyah Allah nggak akan jadi anak ilang.Setelah naik kereta cepat sekali sampailah di gate yang dimaksud dan menunggu diberangkatkan ke ibu kota.

***

Langit Ibu Kota

Ada banyak hal yang ingin saya ceritain selama terbang dengan burung besi milik Qatar ini.Insyah Allah lain waktu aja ya.

Setelah terombang ambing selama 9 jam diangkasa mimpi saya ingin menjejak di ibu kota semakin nyata.Alhamdulillah tiba dengan selamat.

Hal yang saya ucapkan pertama kali adalah kalimat takbir

" Maha Besar Engkau Ya Allah ! "

Setelah melewati pengecekan petugas imigrasi ,kaki saya melangkah ke pengambilan bagasi.Hp saya hidupkan dan Alhamdulillah sudah ada WiFi di bandara walaupun sinyalnya pulang-pergi juga .

Panggilan masuk dari Bu Unun tertera di layar . Tiba-tiba berdering lagi .Ternyata dari Mbak Wati,sahabat Fesbukku.Masyah Allah beliau sudah menunggu di luar.

Setelah menunggu kemunculan tas hitam yang berapa kali salah ngambil,rezeki saya datang.Ada aja yang bantuin padahal muka saya udah kusut nggak ada senyum-senyumnya mungkin pengaruh keju Polandia dan hawa dingin . Hihihihi  .

Mau ketemu Mbak Wati dari Voice of Indonesia bukannya senang malah gugup 😁😁😁. MasyahAllah beliau udah nunggu di luar .Saya melewati petugas bea cukai bandara udah kayak jalan tol bebas hambatan.Masyah Allah ditolong lagi dorong stroller karena kegugupan saya itu.

Dan taraaaaaa .... Masyah Allah tiba-tiba ada yang narik tangan saya dan berpelukanlah kami,saya dan Mbak Wati.πŸ€—πŸ€—πŸ€—.Terharu ya datang dijemput dan dipeluk sedemikian rupa.

Ini pengalaman pertama ya bertemu dengan Mbak Wati . Nggak tahu kenapa ke Mbak Wati ini udah kayak sahabat kenal lama.Ini kesan pertama dan ternyata masih ada lagi keseruan lain.

Hawa panas, denyut keramaian ibu kota dan manusia-manusia ibu pertiwi dengan warna hidup mereka terlihat nyata.

Kami dijemput Mas Tono ,yang well..., apa semua orang di Voice of Indonesia,Bilik Sastra begini ? Udah kayak saudara,gaes ! Ramah dan baik sekali.

Saya mengikuti Mbak Wati singgah di masjid dekat bandara . Alhamdulillah bisa bersujud ,mengucap syukur atas rahmatNya dipertemukan dengan orang-orang yang hati kami saling bertaut seperti keluarga.

Sebelum berangkat ,saya sempat galau bahkan berpikir bahwa saya pasti merasakan perasaan ini ;

" Terasing di negeri sendiri ."

Tapi setelah takdir pertemuan ini saya dibukakan hati dengan sosok-sosok yang lain.Semangat saya kembali.Syukur itu hadir.

Kemacetan ibu kota sudah bukan masalah.Saya  dan Mbak Wati   dianter Mas Tono melaju dengan mobil menuju titik pertemuan dengan sahabat pemenang Bilik Sastra yang lain.

Ketika tiba di hotel Holiday inn Express ,Bu Unun sudah hadir dan kedua sahabat saya dari negeri rantau yang lain pun sudah tiba duluan dari saya.

Masyah Allah sudah tak bisa saya gambarkan perasaan saya saat itu.Saya jadi ingat pesan Pak suami sebelum berangkat ;

" Jangan khawatir ,bahagia dan nikmati persahabatan di tanah airmu !"

Saya memperkenalkan diri dan memeluk satu persatu.Saya jadi belajar dari Mbak Nila , perempuan luar biasa bersahaja .Keceriaan Mbak Etty juga menginspirasi saya untuk menjadi diri saya apa adanya.

Sejak tinggal di Polandia saya memang sudah jarang senyum.Gimana mau senyum kalau salah senyum disangka orang gila .Hehehehe .

Setelah menaruh tas dan semua peralatan tempur πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€ kami diajak Bu Unun,Mas Tono dan Mbak Wati ke rumah makan dan juga bertemu Ibu kami tercinta,Ibu Rita ...Masyah Allah cantik dan keibuan sekali beliau.

Kalau perut bisa dinegoπŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„ semua pengen disantap.Hahahha udah kayak orang kalap.Maklumlah lama nggak ngebakso dan nge-padang.Apaan tuh ? Itu makan bakso ama nasi Padang.

Doa juragan ampuh juga,Masyah Allah !

" Nikmati ya kochana 😘 ! "

" Siaaap Juragan ...."

Pulanglah kami diantar Pak Sapto ke hotel untuk persiapan Penganugerahan Bilik Sastra Award besok tanggal 21 Oktober 2017.

***

Penganugerahan Bilik Sastra ,Keping Mimpi yang Terkabul

Entah saya harus mulai darimana menggambarkan uluran kehangatan dan rasa kekeluargaan dari sosok-sosok di ruang Voice of Indonesia, Program Bilik Sastra .

Saya memang kepengin sekali make batik di acara penganugerahan Bilik Sastra  tapi karena kendala beberapa hal saya nggak jadi beli.Ada dijual disini ( Polandia ) tapi harganya mahal sekali .

Nggak nyangka ternyata Bu Rita dan tim Bilik Sastra sudah mempersiapkan dan warnanya itu Masyah Allah.Ukurannya juga pas ❤️❤️❤️.Jadilah saya berbatik ria .

Nikmat mana lagi yang saya dustakan ?

Ketika suara adzan berkumandang ,saya terbangun dan air mata saya tumpah.Setelah sekian lama saya mendengar kembali panggilan itu di ibu kota,di tanah saya lahir dan dibesarkan.

Usai shalat subuh ,saya mempersiapkan diri dan  kemudian menuju ruang makan hotel.Saya bertemu lagi dengan Mbak Wati,Bu Unun dan kedua sahabat saya .

Sebelum menjejak di ruang Voice of Indonesia, Program Bilik Sastra ,Bu Unun masih mengantar kami jalan-jalan ke museum Indonesia. Langkah kami menelusuri sejarah bangsa dan leluhur tidak lupa kami abadikan di ponsel kamera masing-masing.

Dan waktu itu pun tiba.Masyah Allah sekian lama merantau,sembuh dari depresi tidak menyangka Allah memperjalankan rindu dan mimpi ini menjadi satu kepingan utuh di ibu kota.

Kami dilayani dan disambut bak orang penting.Hahahaha.Maklumlah selama ini saya cuma kerja sebagai Ibu rumah tangga atau Inem di rumah sendiri 😁😁😁.

Langkah kaki ke ruangan itu semakin buat saya gugup.Orang-orang luar biasa sudah ada disana.Orang-orang hebat dan juga penting.

Untuk pertama kalinya saya bertemu dan mendengar langsung suara Mbak Enggar yang selalu membacakan cerpen Bilik Sastra . Masyah Allah bukan suaranya aja yang cantik ,orangnya juga😍😍😍.Sayang,saya sama sekali tak punya kesempatan untuk ngobrol atau menyapa Mbak cantik itu .

Saya juga penasaran dengan sosok Mbak Dora.Mbak say yang nggak lelah nyemangatin ,ngasih info bahkan ngasih hadiah batik buat Aisha.Love you all team Voice of Indonesia , Program Bilik Sastra .Terimah kasih ,Tuhan sudah mengizinkan saya bertemu dengan keluarga dan saudara sebangsa .Darah saya selamanya Merah -Putih !

Kini saya tahu bahwa galau saya tak beralasan .Hahahaha .Galau mulu emang.

Di Panggung Kehormatan

Saya juga terharu  redaktur dan sahabat Islampos berkenan hadir jauh-jauh dari Purwakarta.Ada sahabat istimewa saya dari Jakarta ,Mbak Eka dan adik se geng,seperjuangan di Bandung dulu bahkan sahabat Fesbuk yang saya juga nggak tahu nama,Mbak Tata .. MasyahAllah . Barakallahu fiikum ,saya berbangga mengenal kalian semua.

Setelah acara makan , pembacaan cerpen pun dimulai.Saya bismillah aja .Mau gimana nanti.Hahahaha ,nggak ada persiapan.Maklum ibu rumah tangga ,alasan mulu πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€.

Saat saya ditakdirkan duduk di samping Teh Pipiet Senja kalau nggak ingat keberadaan saya di atas panggung udah mau nangis-nangis ngeliat beliau.Masyah Allah inspirator saya saat saya berada di pengungsian.Maha Suci Allah,saya dipertemukan dan diberi ruang duduk di dekat beliau,menyentuh tangan keibuan beliau dan dalam hati saya bertakbir

" Maha Besar Engkau Ya Rabb untuk nikmat ini ."

Nggak cukup saya tuliskan disini ruang-ruang mimpi dan kepingan rindu saya yang menjadi nyata.

Luar biasa sekali bertemu dengan wajah-wajah para penulis Sastra yang hebat.Saya jadi belajar dari Uni Sastry ,Pak Yunus,Pak Irwan dan bakalan panjang sekali kalau saya uraikan.

Saya ,Raidah Athirah ingin mengucapkan terimakasih kepada tim Voice of Indonesia , Program Bilik Sastra .Terimah kasih menjadi jembatan saya merajut kepingan rindu dan mimpi di ibu kota setelah sekian tahun di rantau.Semoga kebaikan dan silahtuhrahmi ini bertaut di lain masa.

****

Saran saya kepada tim Voice of Indonesia , Program Bilik Sastra agar membuka lagi ruang sastra yang lain yakni puisi agar sahabat -sahabat saya yang memang jago menyuarakan kisah hidup mereka lewat syair-syair kata bisa tersalurkan.

Meskipun demikian saya pribadi berbangga  dan sangat berterima kasih untuk ruang yang  Voice of Indonesia Bilik Sastra buka kepada kami anak negeri yang dirantau.Tuhan memberkahi semangat dan kebaikan kalian .Semoga saya diizinkan berjumpa lagi dengan Mbak Wati,Bu Rita,Mbak Dora ,Mas Tono ,Bu Unun dan Mbak Enggar yang sapa saya belum tertunai.










I

Berbagi Sampai Ke Negeri Sang Paulus , Polandia

Allah Ta’ala berfirman : “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adala...