Rabu, 01 November 2017

Sastra Perantauan,Voice of Indonesia ; Merajut Mimpi dan Rindu Di Ibu Kota

Seperti mimpi saat saya membuka email pagi itu berdasarkan info dari sahabat Fesbuk.


Saya memang mengirimkan dua buah cerpen ke Bilik Sastra.Itu juga terburu-buru dan nggak maksimal.Maksudnya nggak maksimal karena saya nggak nyangka ternyata cerpen yang masuk itu dilombakan juga.


Kalau dalam ukuran saya pribadi mustahil ' menang' karena cerpen -cerpen yang lain bagus,lebih rapih dan tentu saja sudah dipersiapkan.




Saya pribadi mengenal Bilik Sastra atau disebut Sastra Perantauan ini sejak tahun 2015.Terlambat ,bukan ? Ini juga berdasarkan info dari teman sesama Fesbuk.

Allah Memang Maha Baik atau istilah sekarang  'Rezeki Nggak Kemana' mungkin pas untuk saya.


Ini bukan merendah tapi saya sama sekali tidak memiliki latar belakang penulis atau pembelajar sastra .Saya penggila sastra baik cerpen ,puisi maupun cerita novel . Sebagian besar karya -karya sastra saya baca dan nikmati.


Saya akhirnya menyuarakan gelisah  tentang pengungsi Suriah dan juga hidup perempuan Indonesia di rantau dalam tulisan.Saya belajar menulis sendiri di tengah kesibukan sebagai ibu rumah tangga dengan putri ' special ' .

Alhamdulillah keberuntungan datang .Kepingan mimpi itu kian nyata.

***
Saya dan RRI,Rajutan Mimpi Yang Terkabul 

Saya cerita sedikit masa lalu saya dan RRI.Tahun 1999 pasca konflik Maluku ,saya dan keluarga mengungsi ke Ternate .Hidup susah disana saya,  orang tua dan  keluarga jalani yang penting kami bisa selamat dan sekolah.



Di masa itu saya pengen sekali belajar bahasa Inggris tapi karena keterbatasan biaya ,saya memilih mengalah dan nggak mau hati ibu sedih memikirkan biaya kursus.


Berkenalan lah saya dengan RRI  .Di rumah pengungsi itu ada radio butut milik salah satu keluarga pengungsi dari Galela.Setiap sesi bahasa Inggris saya minta tolong untuk dipanggil agar bisa  mendengarkan siaran itu.

Begitu terus.Di malam hari apa yang saya dengarkan saya tulis kembali.Itulah sejarah hidup saya yang terhubung dengan RRI .


Mimpi saya waktu itu pengen sekali bisa masuk ke ruang RRI karena ada juga RRI di Ternate tapi sampai datang ke Jakarta dan berpindah ke Bandung memang belum waktunya doa saya terkabul.

Bahasa Inggris yang saya pelajari lewat media RRI menghubungkan masa depan dan mengantarkan saya hari ini berdiri di tanah Sang Paulus, Polandia.

Disamping studi ,saya belajar bahasa Inggris dan juga mengajar .Saya  bekerja paruh waktu sebagai guide freelance.Seperti mimpi saat saya membuka email pagi itu berdasarkan info dari sahabat Fesbuk.

Saya memang mengirimkan dua buah cerpen ke Bilik Sastra.Itu juga terburu-buru dan nggak maksimal.Maksudnya nggak maksimal karena saya nggak nyangka ternyata cerpen yang masuk itu dilombakan juga.

Kalau dalam ukuran saya pribadi mustahil ' menang' karena cerpen -cerpen yang lain bagus,lebih rapih dan tentu saja sudah dipersiapkan.

Saya pribadi mengenal Bilik Sastra atau disebut Sastra Perantauan ini sejak tahun 2015.Terlambat ,bukan ? Ini juga berdasarkan info dari teman sesama Fesbuk.

Allah Memang Maha Baik atau istilah Rezeki Nggak Kemana mungkin pas untuk saya.

Ini bukan merendah tapi saya sama sekali tidak memiliki latar belakang penulis atau pembelajar sastra .Saya penggila sastra baik cerpen ,puisi maupun cerita novel . Sebagian besar karya -karya sastra saya baca dan nikmati.

Saya akhirnya menyuarakan gelisah  tentang pengungsi Suriah dan juga hidup perempuan Indonesia di rantau dalam tulisan.Saya belajar menulis sendiri di tengah kesibukan sebagai ibu rumah tangga dengan putri ' special ' .

Alhamdulillah keberuntungan datang .Kepingan mimpi itu kian nyata.

***
Saya dan RRI

Saya cerita sedikit masa lalu saya dan RRI.Tahun 1999 pasca konflik Maluku ,saya dan keluarga mengungsi ke Ternate .Hidup susah disana saya,  orang tua dan  keluarga jalani yang penting kami bisa selamat dan sekolah.

Di masa itu saya pengen sekali belajar bahasa Inggris tapi karena keterbatasan biaya ,saya memilih mengalah dan nggak mau hati ibu sedih memikirkan biaya kursus.

Berkenalan lah saya dengan RRI  .Di rumah pengungsi itu ada radio butut milik salah satu keluarga pengungsi dari Galela.Setiap sesi bahasa Inggris saya minta tolong untuk dipanggil agar bisa  mendengarkan siaran itu.

Begitu terus.Di malam hari apa yang saya dengarkan saya tulis kembali.Itulah sejarah hidup saya yang terhubung dengan RRI .

Mimpi saya waktu itu pengen sekali bisa masuk ke ruang RRI karena ada juga RRI di Ternate tapi sampai datang ke Jakarta dan berpindah ke Bandung memang belum waktunya doa saya terkabul.

Bahasa Inggris yang saya pelajari lewat media RRI menghubungkan masa depan dan mengantarkan saya hari ini berdiri di tanah Sang Paulus, Polandia.

Disamping studi ,saya belajar bahasa Inggris dan juga mengajar .Saya  bekerja paruh waktu sebagai guide freelance untuk menambah biaya kuliah waktu itu.


Ah,saya percaya kata- kata adalah doa.Dan doa itu menjelma nyata.Ia memanggil saya melihat mimpi-mimpi yang dulu saya angankan.

Kembali ke email pemberitahuan, saya masih nggak percaya sewaktu Mbak Dora dan Mbak Wati dari Voice of Indonesia ngasih info di inbox untuk melakukan konfirmasi.Saya berdiri gemetar selepas mengantar putri saya ke sekolah.

" Beneran ini ?" Hahahha, saya menertawakan diri saya sendiri.Kayak orang gila iya πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„


Seumur-umur ,ini kedua kali saya merasa gelisah , gemetar 😰😰😰😡😡 kayak dulu pertama kali Juragan datang ke Indonesia untuk meminang saya .Siapalah saya hanya bumbu masak ini .Hahahha 🀣🀣🀣

Setelah diskusi dan dipertimbangkan masak-masak Juragan ( Pak suami) dengan  hati ikhlas mengizinkan saya ke Jakarta untuk menghadiri ' Penganugerahan Bilik Sastra Award 2017 ' .

" Alhamdulillah Ya Allah ..."

Ternyata kejutan-kejutan dan lipatan kebaikan sudah menunggu.

***

Hari Keberangkatan Ke Tanah Air

Entah mengapa walaupun belum pernah berjumpa sosok Mbak Dora dan Mbak Wati bagi saya sudah seperti sahabat.Kedua beliau ini yang membuat saya memantapkan hati datang ke Jakarta.


Awalanya saya agak ragu ,mengingat jadwal terapi putri saya yang sudah disiapkan.Alhamdulillah Pak Suami berkenan menggantikan peran saya selama seminggu.

" DziΔ™kujΔ™ bardzo , kochanie ! "

Tiket pesawat bahkan sudah dipesan oleh mereka .Ya Allah ...terharu sekali, tanpa saya minta tiket PP  sudah dikirim ke email.

Jujur saja ya πŸ˜„ πŸ˜ƒπŸ˜€ dari dulu saya emang pengen bangat ngerasain gimana naik pesawat salah satu maskapai  Timur Tengah yang katanya berkelas itu.Etihad, Emirates udah, KLM apalagi.Ini kaya dapat durian runtuh.

Pas ngecek email trus liat nama maskapai .

" Masyah Allah...,kagak salah nih saya dikasih Qatar ! " Hihihi noraknya keluar .πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„

Saya emang dalam hati udah berdoa
"  Ya Allah ...Jangan kasih saya singgah di Frankfurt ." Alhamdulillah doa saya terkabul tanpa nyebutin pun Allah Maha Tahu saya pengen ngerasain transit di Doha.Jadilah saya transit di Hamad Internasional Airport , Doha.Markasnya pesawat Qatar.

Perjalanan dengan total 24 jam itu ternyata nggak seserem yang saya takuti.Namanya juga baru pertama kali terbang tanpa Juragan alias Abu Aisha πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€ Norak-norak gimana gituh.Hehehe

Warsawa-Doha = 5 jam

Transit                = 10 jam

Doha - Jakarta   = 9 jam

Di Bandara Doha

Dibandingkan bandara Dubai entahlah hati saya kok tertambat disini,HIA ( Hamad Internasional Airport ) .Emang lebih gede ya bandara Dubai tapi punya Qatar ini nggak kalah oke ya.Setidaknya saya nggak jadi ' pengemis WiFi ' atau termasuk ' para pemburu WiFi ' wong available 24 jam nonstop.



Palingan yang stop itu ya baterai yang sudah kelelahan cekrek-cekrek mulu.Selfi juga daku lakuin bukan untuk dipamerin tapi buat dikirim via WA ke Juragan sebagai alat bukti kalau istrinya yang orang Indonesia ini  Alhamdulillah selamat ,aman , sejahtera wkwkwkwk udah kayak mau pidato😁😁😁.

Rencana awalnya mau ikutan Doha City Tour yang gratis itu .Pas nyampe di meja pendaftaran bayangan saya langsung hilang .Hahahaha antriannya udah kayak ular piton ; panjang kali lebar .Saya yang ukuran mini ini hilanglah ditelan kerumunan para bule pemburu Doha City Tour.

Lagian tiba-tiba panggilan alam menyala.Udah aja melimpir ke toilet sekalian bersih-bersih .Mengalah saja .Dan bayangan saya pun kembali muncul πŸ˜ŽπŸ˜ŽπŸ˜ŽπŸ˜ƒπŸ˜„πŸ˜„

Toilet nya keren euy.Luas dan harum .Ternyata di samping toilet ada prayer room juga.Komplit udah.

Wudhu jangan ditoilet ya .Ada kok tempat wudhu nyaman di ruangan yang diperuntukkan hanya  untuk wanita /gadis/akhwat /ibu pokoknya yang berjenis kelamin perempuan.

Selesai bersih-bersih,wudhu dan shalat saya istirahat setengah jam di ruangan shalat.Ada  ruangan khusus untuk tidur namanya Family  Quite room .Tapi karena udah lelah ya udah saya istirahatkan badan saya yang sempoyongan ini dan baca Qur'an .

Nggak kerasa ternyata waktu cepat berlalu.Tiga jam sebelum gate dibuka saya tengok papan pengumuman.Ternyata penerbangan dari Doha ke Jakarta bukan di gate B melainkan gate D.Daripada bingung ilmu malu bertanya sesat di jalan keluar juga.Bertanyalah saya ke salah satu petugas yang sedang berdiri di sisi bandara megah itu.

" Excuse me ,Sir ...,Which way I should take to go to gate E23 ?" Petugas melototin saya dulu .Mungkin dalam hatinya ini kurcaci dari mana .Hahahahha 🀣🀣🀣. Petugasnya emang tinggi besar kayak Pak Saumi.Alhamdulillah senyum dia.Not too bad , friends ! 😎

Ini saran saya ya kalau di Bandara Doha mendingan jangan nanya cleaning service atau potter.Informasinya menyesatkan .Saya waktu itu nanya Quite room eh dia ngarahin saya justru ke gate penerbangan .Padahal saya udah kasih kode bahasa isyarat tangan di pipi ,kepala miring sedikit alias tanda ngantuk berat.Hahahha mungkin dia pikir saya udah mau boarding kali.

Alhamdulillah sekalipun nggak ada petugas ikutin aja plang petunjuk Insyah Allah nggak akan jadi anak ilang.Setelah naik kereta cepat sekali sampailah di gate yang dimaksud dan menunggu diberangkatkan ke ibu kota.

***

Langit Ibu Kota

Ada banyak hal yang ingin saya ceritain selama terbang dengan burung besi milik Qatar ini.Insyah Allah lain waktu aja ya.

Setelah terombang ambing selama 9 jam diangkasa mimpi saya ingin menjejak di ibu kota semakin nyata.Alhamdulillah tiba dengan selamat.

Hal yang saya ucapkan pertama kali adalah kalimat takbir

" Maha Besar Engkau Ya Allah ! "

Setelah melewati pengecekan petugas imigrasi ,kaki saya melangkah ke pengambilan bagasi.Hp saya hidupkan dan Alhamdulillah sudah ada WiFi di bandara walaupun sinyalnya pulang-pergi juga .

Panggilan masuk dari Bu Unun tertera di layar . Tiba-tiba berdering lagi .Ternyata dari Mbak Wati,sahabat Fesbukku.Masyah Allah beliau sudah menunggu di luar.

Setelah menunggu kemunculan tas hitam yang berapa kali salah ngambil,rezeki saya datang.Ada aja yang bantuin padahal muka saya udah kusut nggak ada senyum-senyumnya mungkin pengaruh keju Polandia dan hawa dingin . Hihihihi  .

Mau ketemu Mbak Wati dari Voice of Indonesia bukannya senang malah gugup 😁😁😁. MasyahAllah beliau udah nunggu di luar .Saya melewati petugas bea cukai bandara udah kayak jalan tol bebas hambatan.Masyah Allah ditolong lagi dorong stroller karena kegugupan saya itu.

Dan taraaaaaa .... Masyah Allah tiba-tiba ada yang narik tangan saya dan berpelukanlah kami,saya dan Mbak Wati.πŸ€—πŸ€—πŸ€—.Terharu ya datang dijemput dan dipeluk sedemikian rupa.



Ini pengalaman pertama ya bertemu dengan Mbak Wati . Nggak tahu kenapa ke Mbak Wati ini udah kayak sahabat kenal lama.Ini kesan pertama dan ternyata masih ada lagi keseruan lain.

Hawa panas, denyut keramaian ibu kota dan manusia-manusia ibu pertiwi dengan warna hidup mereka terlihat nyata.

Kami dijemput Mas Tono ,yang well..., apa semua orang di Voice of Indonesia,Bilik Sastra begini ? Udah kayak saudara,gaes ! Ramah dan baik sekali.

Saya mengikuti Mbak Wati singgah di masjid dekat bandara . Alhamdulillah bisa bersujud ,mengucap syukur atas rahmatNya dipertemukan dengan orang-orang yang hati kami saling bertaut seperti keluarga.

Sebelum berangkat ,saya sempat galau bahkan berpikir bahwa saya pasti merasakan perasaan ini ;

" Terasing di negeri sendiri ."

Tapi setelah takdir pertemuan ini saya dibukakan hati dengan sosok-sosok yang lain.Semangat saya kembali.Syukur itu hadir.

Kemacetan ibu kota sudah bukan masalah.Saya  dan Mbak Wati   dianter Mas Tono melaju dengan mobil menuju titik pertemuan dengan sahabat pemenang Bilik Sastra yang lain.

Ketika tiba di hotel Holiday inn Express ,Bu Unun sudah hadir dan kedua sahabat saya dari negeri rantau yang lain pun sudah tiba duluan dari saya.




Masyah Allah sudah tak bisa saya gambarkan perasaan saya saat itu.Saya jadi ingat pesan Pak suami sebelum berangkat ;

" Jangan khawatir ,bahagia dan nikmati persahabatan di tanah airmu !"

Saya memperkenalkan diri dan memeluk satu persatu.Saya jadi belajar dari Mbak Nila , perempuan luar biasa bersahaja .Keceriaan Mbak Etty juga menginspirasi saya untuk menjadi diri saya apa adanya.

Sejak tinggal di Polandia saya memang sudah jarang senyum.Gimana mau senyum kalau salah senyum disangka orang gila .Hehehehe .

Setelah menaruh tas dan semua peralatan tempur πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€ kami diajak Bu Unun,Mas Tono dan Mbak Wati ke rumah makan dan juga bertemu Ibu kami tercinta,Ibu Rita ...Masyah Allah cantik dan keibuan sekali beliau.

Kalau perut bisa dinegoπŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„ semua pengen disantap.Hahahha udah kayak orang kalap.Maklumlah lama nggak ngebakso dan nge-padang.Apaan tuh ? Itu makan bakso ama nasi Padang.

Doa juragan ampuh juga,Masyah Allah !

" Nikmati ya kochana 😘 ! "

" Siaaap Juragan ...."

Pulanglah kami diantar Pak Sapto ke hotel untuk persiapan Penganugerahan Bilik Sastra Award besok tanggal 21 Oktober 2017.

***

Penganugerahan Bilik Sastra ,Keping Mimpi yang Terkabul

Entah saya harus mulai darimana menggambarkan uluran kehangatan dan rasa kekeluargaan dari sosok-sosok di ruang Voice of Indonesia, Program Bilik Sastra .

Saya memang kepengin sekali make batik di acara penganugerahan Bilik Sastra  tapi karena kendala beberapa hal saya nggak jadi beli.Ada dijual disini ( Polandia ) tapi harganya mahal sekali .

Nggak nyangka ternyata Bu Rita dan tim Bilik Sastra sudah mempersiapkan dan warnanya itu Masyah Allah.Ukurannya juga pas ❤️❤️❤️.Jadilah saya berbatik ria .

Nikmat mana lagi yang saya dustakan ?

Ketika suara adzan berkumandang ,saya terbangun dan air mata saya tumpah.Setelah sekian lama saya mendengar kembali panggilan itu di ibu kota,di tanah saya lahir dan dibesarkan.

Usai shalat subuh ,saya mempersiapkan diri dan  kemudian menuju ruang makan hotel.Saya bertemu lagi dengan Mbak Wati,Bu Unun dan kedua sahabat saya .

Sebelum menjejak di ruang Voice of Indonesia, Program Bilik Sastra ,Bu Unun masih mengantar kami jalan-jalan ke museum Indonesia. Langkah kami menelusuri sejarah bangsa dan leluhur tidak lupa kami abadikan di ponsel kamera masing-masing.

Dan waktu itu pun tiba.Masyah Allah sekian lama merantau,sembuh dari depresi tidak menyangka Allah memperjalankan rindu dan mimpi ini menjadi satu kepingan utuh di ibu kota.

Kami dilayani dan disambut bak orang penting.Hahahaha.Maklumlah selama ini saya cuma kerja sebagai Ibu rumah tangga atau Inem di rumah sendiri 😁😁😁.

Langkah kaki ke ruangan itu semakin buat saya gugup.Orang-orang luar biasa sudah ada disana.Orang-orang hebat dan juga penting.

Untuk pertama kalinya saya bertemu dan mendengar langsung suara Mbak Enggar yang selalu membacakan cerpen Bilik Sastra . Masyah Allah bukan suaranya aja yang cantik ,orangnya juga😍😍😍.Sayang,saya sama sekali tak punya kesempatan untuk ngobrol atau menyapa Mbak cantik itu .

Saya juga penasaran dengan sosok Mbak Dora.Mbak say yang nggak lelah nyemangatin ,ngasih info bahkan ngasih hadiah batik buat Aisha.Love you all team Voice of Indonesia , Program Bilik Sastra .Terimah kasih ,Tuhan sudah mengizinkan saya bertemu dengan keluarga dan saudara sebangsa .Darah saya selamanya Merah -Putih !

Kini saya tahu bahwa galau saya tak beralasan .Hahahaha .Galau mulu emang.

Di Panggung Kehormatan

Saya juga terharu  redaktur dan sahabat Islampos berkenan hadir jauh-jauh dari Purwakarta.Ada sahabat istimewa saya dari Jakarta ,Mbak Eka dan adik se geng,seperjuangan di Bandung dulu bahkan sahabat Fesbuk yang saya juga nggak tahu nama,Mbak Tata .. MasyahAllah . Barakallahu fiikum ,saya berbangga mengenal kalian semua.

Setelah acara makan , pembacaan cerpen pun dimulai.Saya bismillah aja .Mau gimana nanti.Hahahaha ,nggak ada persiapan.Maklum ibu rumah tangga ,alasan mulu πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€.





Saat saya ditakdirkan duduk di samping Teh Pipiet Senja kalau nggak ingat keberadaan saya di atas panggung udah mau nangis-nangis ngeliat beliau.Masyah Allah inspirator saya saat saya berada di pengungsian.Maha Suci Allah,saya dipertemukan dan diberi ruang duduk di dekat beliau,menyentuh tangan keibuan beliau dan dalam hati saya bertakbir

" Maha Besar Engkau Ya Rabb untuk nikmat ini ."

Nggak cukup saya tuliskan disini ruang-ruang mimpi dan kepingan rindu saya yang menjadi nyata.

Luar biasa sekali bertemu dengan wajah-wajah para penulis Sastra yang hebat.Saya jadi belajar dari Uni Sastry ,Pak Yunus,Pak Irwan dan bakalan panjang sekali kalau saya uraikan.

Saya ,Raidah Athirah ingin mengucapkan terimakasih kepada tim Voice of Indonesia , Program Bilik Sastra .Terimah kasih menjadi jembatan saya merajut kepingan rindu dan mimpi di ibu kota setelah sekian tahun di rantau.Semoga kebaikan dan silahtuhrahmi ini bertaut di lain masa.


****

Saran saya kepada tim Voice of Indonesia , Program Bilik Sastra agar membuka lagi ruang sastra yang lain yakni puisi agar sahabat -sahabat saya yang memang jago menyuarakan kisah hidup mereka lewat syair-syair kata bisa tersalurkan.

Meskipun demikian saya pribadi berbangga  dan sangat berterima kasih untuk ruang yang  Voice of Indonesia Bilik Sastra buka kepada kami anak negeri yang dirantau.Tuhan memberkahi semangat dan kebaikan kalian .Semoga saya diizinkan berjumpa lagi dengan Mbak Wati,Bu Rita,Mbak Dora ,Mas Tono ,Bu Unun dan Mbak Enggar yang sapa saya belum tertunai.











 untuk menambah biaya kuliah waktu itu.

Ah,saya percaya kata- kata adalah doa.Dan doa itu menjelma nyata.Ia memanggil saya melihat mimpi-mimpi yang dulu saya angankan.

Kembali ke email pemberitahuan, saya masih nggak percaya sewaktu Mbak Dora dan Mbak Wati dari Voice of Indonesia ngasih info di inbox untuk melakukan konfirmasi.Saya berdiri gemetar selepas mengantar putri saya ke sekolah.

" Beneran ini ?" Hahahha, saya menertawakan diri saya sendiri.Kayak orang gila iya πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„

Seumur-umur ,ini kedua kali saya merasa gelisah , gemetar 😰😰😰😡😡 kayak dulu pertama kali Juragan datang ke Indonesia untuk meminang saya .Siapalah saya hanya bumbu masak ini .Hahahha 🀣🀣🀣

Setelah diskusi dan dipertimbangkan masak-masak Juragan ( Pak suami) dengan  hati ikhlas mengizinkan saya ke Jakarta untuk menghadiri ' Penganugerahan Bilik Sastra Award 2017 ' .

" Alhamdulillah Ya Allah ..."

Ternyata kejutan-kejutan dan lipatan kebaikan sudah menunggu.

***

Hari Keberangkatan Ke Tanah Air

Entah mengapa walaupun belum pernah berjumpa sosok Mbak Dora dan Mbak Wati bagi saya sudah seperti sahabat.Kedua beliau ini yang membuat saya memantapkan hati datang ke Jakarta.

Awalanya saya agak ragu ,mengingat jadwal terapi putri saya yang sudah disiapkan.Alhamdulillah Pak Suami berkenan menggantikan peran saya selama seminggu.

" DziΔ™kujΔ™ bardzo , kochanie ! "

Tiket pesawat bahkan sudah dipesan oleh mereka .Ya Allah ...terharu sekali, tanpa saya minta tiket PP  sudah dikirim ke email.

Jujur saja ya πŸ˜„ πŸ˜ƒπŸ˜€ dari dulu saya emang pengen bangat ngerasain gimana naik pesawat salah satu maskapai  Timur Tengah yang katanya berkelas itu.Etihad, Emirates udah, KLM apalagi.Ini kaya dapat durian runtuh.

Pas ngecek email trus liat nama maskapai .

" Masyah Allah...,kagak salah nih saya dikasih Qatar ! " Hihihi noraknya keluar .πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„

Saya emang dalam hati udah berdoa
"  Ya Allah ...Jangan kasih saya singgah di Frankfurt ." Alhamdulillah doa saya terkabul tanpa nyebutin pun Allah Maha Tahu saya pengen ngerasain transit di Doha.Jadilah saya transit di Hamad Internasional Airport , Doha.Markasnya pesawat Qatar.

Perjalanan dengan total 24 jam itu ternyata nggak seserem yang saya takuti.Namanya juga baru pertama kali terbang tanpa Juragan alias Abu Aisha πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€ Norak-norak gimana gituh.Hehehe

Warsawa-Doha = 5 jam

Transit                = 10 jam

Doha - Jakarta   = 9 jam

Di Bandara Doha

Dibandingkan bandara Dubai entahlah hati saya kok tertambat disini,HIA ( Hamad Internasional Airport ) .Emang lebih gede ya bandara Dubai tapi punya Qatar ini nggak kalah oke ya.Setidaknya saya nggak jadi ' pengemis WiFi ' atau termasuk ' para pemburu WiFi ' wong available 24 jam nonstop.

Palingan yang stop itu ya baterai yang sudah kelelahan cekrek-cekrek mulu.Selfi juga daku lakuin bukan untuk dipamerin tapi buat dikirim via WA ke Juragan sebagai alat bukti kalau istrinya yang orang Indonesia ini  Alhamdulillah selamat ,aman , sejahtera wkwkwkwk udah kayak mau pidato😁😁😁.

Rencana awalnya mau ikutan Doha City Tour yang gratis itu .Pas nyampe di meja pendaftaran bayangan saya langsung hilang .Hahahaha antriannya udah kayak ular piton ; panjang kali lebar .Saya yang ukuran mini ini hilanglah ditelan kerumunan para bule pemburu Doha City Tour.

Lagian tiba-tiba panggilan alam menyala.Udah aja melimpir ke toilet sekalian bersih-bersih .Mengalah saja .Dan bayangan saya pun kembali muncul πŸ˜ŽπŸ˜ŽπŸ˜ŽπŸ˜ƒπŸ˜„πŸ˜„

Toilet nya keren euy.Luas dan harum .Ternyata di samping toilet ada prayer room juga.Komplit udah.

Wudhu jangan ditoilet ya .Ada kok tempat wudhu nyaman di ruangan yang diperuntukkan hanya  untuk wanita /gadis/akhwat /ibu pokoknya yang berjenis kelamin perempuan.

Selesai bersih-bersih,wudhu dan shalat saya istirahat setengah jam di ruangan shalat.Ada  ruangan khusus untuk tidur namanya Family  Quite room .Tapi karena udah lelah ya udah saya istirahatkan badan saya yang sempoyongan ini dan baca Qur'an .

Nggak kerasa ternyata waktu cepat berlalu.Tiga jam sebelum gate dibuka saya tengok papan pengumuman.Ternyata penerbangan dari Doha ke Jakarta bukan di gate B melainkan gate D.Daripada bingung ilmu malu bertanya sesat di jalan keluar juga.Bertanyalah saya ke salah satu petugas yang sedang berdiri di sisi bandara megah itu.

" Excuse me ,Sir ...,Which way I should take to go to gate E23 ?" Petugas melototin saya dulu .Mungkin dalam hatinya ini kurcaci dari mana .Hahahahha 🀣🀣🀣. Petugasnya emang tinggi besar kayak Pak Saumi.Alhamdulillah senyum dia.Not too bad , friends ! 😎

Ini saran saya ya kalau di Bandara Doha mendingan jangan nanya cleaning service atau potter.Informasinya menyesatkan .Saya waktu itu nanya Quite room eh dia ngarahin saya justru ke gate penerbangan .Padahal saya udah kasih kode bahasa isyarat tangan di pipi ,kepala miring sedikit alias tanda ngantuk berat.Hahahha mungkin dia pikir saya udah mau boarding kali.

Alhamdulillah sekalipun nggak ada petugas ikutin aja plang petunjuk Insyah Allah nggak akan jadi anak ilang.Setelah naik kereta cepat sekali sampailah di gate yang dimaksud dan menunggu diberangkatkan ke ibu kota.

***

Langit Ibu Kota

Ada banyak hal yang ingin saya ceritain selama terbang dengan burung besi milik Qatar ini.Insyah Allah lain waktu aja ya.

Setelah terombang ambing selama 9 jam diangkasa mimpi saya ingin menjejak di ibu kota semakin nyata.Alhamdulillah tiba dengan selamat.

Hal yang saya ucapkan pertama kali adalah kalimat takbir

" Maha Besar Engkau Ya Allah ! "

Setelah melewati pengecekan petugas imigrasi ,kaki saya melangkah ke pengambilan bagasi.Hp saya hidupkan dan Alhamdulillah sudah ada WiFi di bandara walaupun sinyalnya pulang-pergi juga .

Panggilan masuk dari Bu Unun tertera di layar . Tiba-tiba berdering lagi .Ternyata dari Mbak Wati,sahabat Fesbukku.Masyah Allah beliau sudah menunggu di luar.

Setelah menunggu kemunculan tas hitam yang berapa kali salah ngambil,rezeki saya datang.Ada aja yang bantuin padahal muka saya udah kusut nggak ada senyum-senyumnya mungkin pengaruh keju Polandia dan hawa dingin . Hihihihi  .

Mau ketemu Mbak Wati dari Voice of Indonesia bukannya senang malah gugup 😁😁😁. MasyahAllah beliau udah nunggu di luar .Saya melewati petugas bea cukai bandara udah kayak jalan tol bebas hambatan.Masyah Allah ditolong lagi dorong stroller karena kegugupan saya itu.

Dan taraaaaaa .... Masyah Allah tiba-tiba ada yang narik tangan saya dan berpelukanlah kami,saya dan Mbak Wati.πŸ€—πŸ€—πŸ€—.Terharu ya datang dijemput dan dipeluk sedemikian rupa.

Ini pengalaman pertama ya bertemu dengan Mbak Wati . Nggak tahu kenapa ke Mbak Wati ini udah kayak sahabat kenal lama.Ini kesan pertama dan ternyata masih ada lagi keseruan lain.

Hawa panas, denyut keramaian ibu kota dan manusia-manusia ibu pertiwi dengan warna hidup mereka terlihat nyata.

Kami dijemput Mas Tono ,yang well..., apa semua orang di Voice of Indonesia,Bilik Sastra begini ? Udah kayak saudara,gaes ! Ramah dan baik sekali.

Saya mengikuti Mbak Wati singgah di masjid dekat bandara . Alhamdulillah bisa bersujud ,mengucap syukur atas rahmatNya dipertemukan dengan orang-orang yang hati kami saling bertaut seperti keluarga.

Sebelum berangkat ,saya sempat galau bahkan berpikir bahwa saya pasti merasakan perasaan ini ;

" Terasing di negeri sendiri ."

Tapi setelah takdir pertemuan ini saya dibukakan hati dengan sosok-sosok yang lain.Semangat saya kembali.Syukur itu hadir.

Kemacetan ibu kota sudah bukan masalah.Saya  dan Mbak Wati   dianter Mas Tono melaju dengan mobil menuju titik pertemuan dengan sahabat pemenang Bilik Sastra yang lain.

Ketika tiba di hotel Holiday inn Express ,Bu Unun sudah hadir dan kedua sahabat saya dari negeri rantau yang lain pun sudah tiba duluan dari saya.

Masyah Allah sudah tak bisa saya gambarkan perasaan saya saat itu.Saya jadi ingat pesan Pak suami sebelum berangkat ;

" Jangan khawatir ,bahagia dan nikmati persahabatan di tanah airmu !"

Saya memperkenalkan diri dan memeluk satu persatu.Saya jadi belajar dari Mbak Nila , perempuan luar biasa bersahaja .Keceriaan Mbak Etty juga menginspirasi saya untuk menjadi diri saya apa adanya.

Sejak tinggal di Polandia saya memang sudah jarang senyum.Gimana mau senyum kalau salah senyum disangka orang gila .Hehehehe .

Setelah menaruh tas dan semua peralatan tempur πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€ kami diajak Bu Unun,Mas Tono dan Mbak Wati ke rumah makan dan juga bertemu Ibu kami tercinta,Ibu Rita ...Masyah Allah cantik dan keibuan sekali beliau.

Kalau perut bisa dinegoπŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„ semua pengen disantap.Hahahha udah kayak orang kalap.Maklumlah lama nggak ngebakso dan nge-padang.Apaan tuh ? Itu makan bakso ama nasi Padang.

Doa juragan ampuh juga,Masyah Allah !

" Nikmati ya kochana 😘 ! "

" Siaaap Juragan ...."

Pulanglah kami diantar Pak Sapto ke hotel untuk persiapan Penganugerahan Bilik Sastra Award besok tanggal 21 Oktober 2017.

***

Penganugerahan Bilik Sastra ,Keping Mimpi yang Terkabul

Entah saya harus mulai darimana menggambarkan uluran kehangatan dan rasa kekeluargaan dari sosok-sosok di ruang Voice of Indonesia, Program Bilik Sastra .

Saya memang kepengin sekali make batik di acara penganugerahan Bilik Sastra  tapi karena kendala beberapa hal saya nggak jadi beli.Ada dijual disini ( Polandia ) tapi harganya mahal sekali .

Nggak nyangka ternyata Bu Rita dan tim Bilik Sastra sudah mempersiapkan dan warnanya itu Masyah Allah.Ukurannya juga pas ❤️❤️❤️.Jadilah saya berbatik ria .

Nikmat mana lagi yang saya dustakan ?

Ketika suara adzan berkumandang ,saya terbangun dan air mata saya tumpah.Setelah sekian lama saya mendengar kembali panggilan itu di ibu kota,di tanah saya lahir dan dibesarkan.

Usai shalat subuh ,saya mempersiapkan diri dan  kemudian menuju ruang makan hotel.Saya bertemu lagi dengan Mbak Wati,Bu Unun dan kedua sahabat saya .

Sebelum menjejak di ruang Voice of Indonesia, Program Bilik Sastra ,Bu Unun masih mengantar kami jalan-jalan ke museum Indonesia. Langkah kami menelusuri sejarah bangsa dan leluhur tidak lupa kami abadikan di ponsel kamera masing-masing.

Dan waktu itu pun tiba.Masyah Allah sekian lama merantau,sembuh dari depresi tidak menyangka Allah memperjalankan rindu dan mimpi ini menjadi satu kepingan utuh di ibu kota.

Kami dilayani dan disambut bak orang penting.Hahahaha.Maklumlah selama ini saya cuma kerja sebagai Ibu rumah tangga atau Inem di rumah sendiri 😁😁😁.

Langkah kaki ke ruangan itu semakin buat saya gugup.Orang-orang luar biasa sudah ada disana.Orang-orang hebat dan juga penting.

Untuk pertama kalinya saya bertemu dan mendengar langsung suara Mbak Enggar yang selalu membacakan cerpen Bilik Sastra . Masyah Allah bukan suaranya aja yang cantik ,orangnya juga😍😍😍.Sayang,saya sama sekali tak punya kesempatan untuk ngobrol atau menyapa Mbak cantik itu .

Saya juga penasaran dengan sosok Mbak Dora.Mbak say yang nggak lelah nyemangatin ,ngasih info bahkan ngasih hadiah batik buat Aisha.Love you all team Voice of Indonesia , Program Bilik Sastra .Terimah kasih ,Tuhan sudah mengizinkan saya bertemu dengan keluarga dan saudara sebangsa .Darah saya selamanya Merah -Putih !

Kini saya tahu bahwa galau saya tak beralasan .Hahahaha .Galau mulu emang.

Di Panggung Kehormatan

Saya juga terharu  redaktur dan sahabat Islampos berkenan hadir jauh-jauh dari Purwakarta.Ada sahabat istimewa saya dari Jakarta ,Mbak Eka dan adik se geng,seperjuangan di Bandung dulu bahkan sahabat Fesbuk yang saya juga nggak tahu nama,Mbak Tata .. MasyahAllah . Barakallahu fiikum ,saya berbangga mengenal kalian semua.

Setelah acara makan , pembacaan cerpen pun dimulai.Saya bismillah aja .Mau gimana nanti.Hahahaha ,nggak ada persiapan.Maklum ibu rumah tangga ,alasan mulu πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€.

Saat saya ditakdirkan duduk di samping Teh Pipiet Senja kalau nggak ingat keberadaan saya di atas panggung udah mau nangis-nangis ngeliat beliau.Masyah Allah inspirator saya saat saya berada di pengungsian.Maha Suci Allah,saya dipertemukan dan diberi ruang duduk di dekat beliau,menyentuh tangan keibuan beliau dan dalam hati saya bertakbir

" Maha Besar Engkau Ya Rabb untuk nikmat ini ."

Nggak cukup saya tuliskan disini ruang-ruang mimpi dan kepingan rindu saya yang menjadi nyata.

Luar biasa sekali bertemu dengan wajah-wajah para penulis Sastra yang hebat.Saya jadi belajar dari Uni Sastry ,Pak Yunus,Pak Irwan dan bakalan panjang sekali kalau saya uraikan.

Saya ,Raidah Athirah ingin mengucapkan terimakasih kepada tim Voice of Indonesia , Program Bilik Sastra .Terimah kasih menjadi jembatan saya merajut kepingan rindu dan mimpi di ibu kota setelah sekian tahun di rantau.Semoga kebaikan dan silahtuhrahmi ini bertaut di lain masa.

****

Saran saya kepada tim Voice of Indonesia , Program Bilik Sastra agar membuka lagi ruang sastra yang lain yakni puisi agar sahabat -sahabat saya yang memang jago menyuarakan kisah hidup mereka lewat syair-syair kata bisa tersalurkan.

Meskipun demikian saya pribadi berbangga  dan sangat berterima kasih untuk ruang yang  Voice of Indonesia Bilik Sastra buka kepada kami anak negeri yang dirantau.Tuhan memberkahi semangat dan kebaikan kalian .Semoga saya diizinkan berjumpa lagi dengan Mbak Wati,Bu Rita,Mbak Dora ,Mas Tono ,Bu Unun dan Mbak Enggar yang sapa saya belum tertunai.










I

Berbagi Sampai Ke Negeri Sang Paulus , Polandia

Allah Ta’ala berfirman : “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adala...