Minggu, 24 Mei 2015

Pengungsi , Potret Kemanusiaan yang Berharap Dimanusiakan

Pengungsi , Potret Kemanusiaan yang Berharap Dimanusiakan 
Oleh : Raidah Athirah
*****
Seperti dalam tulisan saya sebelumnya tentang pengungsi Rohingya , tidak ada satu manusia pun yang ingin menjadi pengungsi .Konflik , perang dan bencana melahirkan potret-potret ini . 
Saya menyoroti ini mengenang latar bekakang selama berada di pengungsian .Pengungsi yang selamat menghadapi fase baru , berhadapan dengan orang-orang yang berkuasa .
Mengapa ? Saya telah cukup besar untuk mengingat perlakuan-perlakuan pejabat rakus , korup dan semena-mena terhadap pengungsi. Pengungsi diberikan beras raskin dan pejabat mengkomsumsi kenyamanan bantuan.Tak bisa saya tampik betapa banyak kebaikan dari masyarakat biasa.
Pengungsi adalah orang-orang lemah yang harus menelan semua pahit yang sudah tak bisa dihitung.Bantuan yang disunat , perlakuan kasar , dan air mata yang hanya bisa berdoa semoga keamanan hadir kembali agar derita ini menemukan muara , kembali dan hidup normal.
Itulah mengapa saya bersuara keras bahwa setidaknya siapapun belajar jadi manusia .Bila tak bisa membantu , kubur perkataan buruk Anda di dalam tanah agar hati-hati yang menderita ini ( pengungsi ) tidak semakin luka .



Berita tentang Sinabung mengingatkan saya tentang pejabat-pejabat yang kehilangan maruah .Pengungsi menelanjangi siapa manusia-manusia yang tidak punya hati dan rusak etika.



Tentu tidak semua pejabat seperti itu.Ada banyak yang dengan tulus ikhlas merangkul pengungsi .Hanya saja potret pejabat pongah tak boleh selalu muncul di media karena kemarahan ini akan meledak .Perbaiki sikap atau masyarakat yang akan bersikap .



Salut dan hormat untuk para relawan kemanusiaan .Yang merelakan kenyamanan ,keamanan hidupnya untuk mereka yang menanggung derita.Kebaikan itu yang selalu saya ingat dan menjadi prinsip dalam perjalanan hidup ditengah perbedaan .



Saya tidak sedang mengecam pemerintah .Saya menaruh hormat kepada pemimpin Indonesia tapi saya meminta agar luka dan perlakuan yang saya dan pengungsi lain alami di masa lalu tidak akan terulang .


Pengungsi hanya ingin dimanusiakan .Sekedar kata-kata yang baik sudah cukup menghilangkan susah .
Roda hidup terus berjalan .Kebaikan yang ditanam akan berbuah .Keburukan yang dibanggakan akan tercabik dan binasa karena begitulah hukum Yang Kuasa .


Bagi yang berkuasa ,ingatlah kuasamu hanyalah sementara .Bagi yang bahagia bersyukurlah kepada masa lapang yang merupakan karunia .Peran kita belajar memanusiakan manusia .
Raidah Athirah
Jablonna ,Polandia
Credit foto : tempo
Credit foto : tribunnews

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagi Sampai Ke Negeri Sang Paulus , Polandia

Allah Ta’ala berfirman : “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adala...