Teroris Asusila
Oleh : Raidah Athirah
****
Beberapa bulan belakangan ini banyak kasus yang bertebaran di beranda berisi berita dari tanah air tentang kasus -kasus asusila .Mulai dari anak SD yang terang-terangan curhat tentang pacaran,buku yang memprovokasi untuk berbuat zina sampai berita mahasiswi yang menjadi ayam kampus.
Potret dari dekadensi moral ini bukan hasil dari budaya yang baru muncul melainkan adanya rentetan teror terhadap norma-norma sosial .
Hadirnya beragam gadget yang cukup terjangkau untuk semua kalangan tak ayal membawa pengaruh terhadap tata pergaulan .Salah satu hal paling revolusioner adalah keterbukaan semua sisi hidup di sosial media .
Hiburan dari TV yang massif menjadi konsumsi setiap waktu bagi anak-anak sudah menjadi teror diam-diam yang mengubah perilaku sosial.Video-video yang tersebar tentang kekerasan pada anak-anak sekolah tak lain adalah buah dari apa yang menjadi tontonan sehari -hari.
Pernah tanpa sengaja Abu Aisha membuka salah satu link film kartun untuk Aisha dari TV online Norwegia ,saat itu pula langsung dimatikan .Bagaimana mungkin anak-anak kecil dalam dialognya sudah mencontohkan bunuh diri.Bahkan rinci sekali dalam memperagakan .
Bisakah Anda bayangkan ! Itulah mengapa sudah sepantasnya kita bersyukur kepada orang-orang yang berdakwah ,yang menasihatkan kepada kebaikan .Yang dengan sabar mengajari generasi kita mengenal Islam
Alhamdulillah kami akhirnya sepakat untuk tidak memiliki TV dan sama sekali tidak membiarkan Aisha menonton .Awalnya cukup berat karena ini merupakan hiburan satu-satunya bila udara di luar tak bersahabat.
Tapi dampak menonton ini justru lebih berat dan merusak.Responnya terhadap kami lambat.Fokus indranya hanya pada kartun yang ia nonton .Interaksi sosial kaku.Saat diajak bicara ia tak menoleh .Hampir satu bulan sampai ia benar-benar kembali normal.
Anda bisa baca link dari orangtua yang total melarang TV di dalam rumah .
Bayi ,anak-anak menangis itu reaksi yang normal .Tapi itu hanya awal.Prinsip kami biar saja ia menangis daripada kami yang akan menangis kelak di akhirat karena penyesalan.Bukankah anak adalah amanah ?
Saya dan suami pernah duduk dan kemudian mengavaluasi bahwa ide untuk membiarkan putri kami menonton TV untuk hiburan adalah ide yang sangat buruk yang menjadi rentetan teror terhadap perilakunya .
Alhamdulillah atas pertolongan Allah ,kami pegang komitmen itu bersama-sama dan kami sosialisakan pula kepada kedua orang tua di Polandia.
Benar adanya bahwa tugas menjadi orang tua adalah sebuah proses belajar sepanjang masa .
***
Gejolak hidup senantiasa datang.Fitnah zaman kian marak .Teror dimana-mana.Bukan hanya teror dalam sisi keamanan ,melainkan teror yang paling halus dan mengerikan adalah teror terhadap norma sosial . Selama ini yang melekat dalam benak kita kata " teror" selalu merujuk kepada kekerasan fisik .Padahal definisi sederhana tentang teror bisa kita pahami bersama.Menurut KBBI ;
teror : usaha menciptakan ketakutan, kengerian, dan kekejaman oleh seseorang atau golongan;
Jelas adanya bahwa usaha ini tentu memiliki dalang .Sematan untuk dalang ini kita sebut sebagai " teroris asusila " bila .Teroris ini hadir dalam bingkai buku ,hiburan TV yang memprovokasi syahwat dan berbagai macam tampilan berupa kata-kata buruk yang didapat dari film rubbish Amerika yang hampir berhasil menabrak nilai -nilai yang bangsa kita miliki.
Amati berapa banyak generasi terutama anak-anak yang dengan ringan mengucap kata " F***k " hanya karena merasa keren .Memperagakan jari tengah sebagai bentuk pelecehan dengan begitu bangga .Bagaimana potret generasi ini bisa lahir ?
Ah ! Jangan sok jadi polisi moral .Sekali lagi saya uraikan kepada Anda bahwa Barat hari ini tengah mengalami krisis sosial akibat dari budaya yang mengagungkan hawa nafsu .Buktinya sampai usia untuk melakukan hubungan intim pun mulai diatur yakni bila telah berumur 15 tahun bahkan ada yang menetapkan 16 tahun seperti Norwegia.
Atau Anda mungkin sering dengar pernyatan yang sungguh apatis " Tiap hari kok ngurus selangkangan ,orang Barat udah sampai ke bulan ,kita masih membahas aturan selangkangan " .Kalimat-kalimat apatis yang menyebar di masyarakat yang secara tidak langsung menunjukkan sebagian generasi kita mulai merasa bahwa memegang teguh nilai-nilai Islam adalah sikap yang kolot .Anti kemajuan .
Kemajuan ini adalah kemajuan yang parsial .Sungguh hidayah Allah jua orang-orang Barat terutama Eropa menyadari bahwa jalan hidup Islam yang membawa keselamatan setelah menyaksikan kerusakan akibat kekacauan sosial.
Sungguh suatu kebahagian menyaksikan lahirnya para sineas ,penulis ,jurnalis pekerja seni ,dan semua Muslim di berbagai bidang yang tetap berpegang teguh mengajak kepada jalan Islam ditengah gempuran media mainstream yang dengan gencar mempromosikan kehidupan hedonis,pergaulan bebas dan film -film yang mengajarkan kepada kesyirikan
Benar lah bahwa senjata seorang Muslim adalah do'a .Ini yang Rasulullah Sallahu wa alahi wassalam ajarkan kepada kita bahwasanya kita memohon per lindungan kepada Allah ,Tuhan Yang Maha Melindungi .
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ
: Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur dan dari siksa api neraka dan dari fitnah kehidupan dan kematian dan dari fitnah Al Masihid Dajjal").
(HR Bukhari 1288)
: Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur dan dari siksa api neraka dan dari fitnah kehidupan dan kematian dan dari fitnah Al Masihid Dajjal").
(HR Bukhari 1288)
Raidah Athirah
Haugeund,Norwegia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar