Sabtu, 27 September 2014

Poligami antara Kemampuan dan Kemauan


Pembahasan ini akhirnya terjadi juga .Abu Aisha punya langganan potong rambut selama tinggal di Haugesund .Langganannya adalah salah satu brother asal Kurdi yang memiliki salon ' Frisor ' .

Abu Aisha mengukur batas , mensyukuri kehidupan 


Brother ini baru kembali dari kampung halamannya setelah menikah dengan sister asal Suriah padahal dari keterangan sebelumnya beliau bilang sudah punya istri dan anak .Diskusi punya diskusi , Abu Aisha akhirnya mendapatkan titik terang bahwa brother ini diminta orang tuanya untuk kembali ke kampung halaman untuk pernikahan lebih tepatnya poligami.Suatu bakti yang luar biasa ! .Salut untuk keikhlasan sang istri !

Itulah mengapa beliau tidak terlihat di Haugesund hampir 3 bulan lamanya . Dari celoteh beliau juga saya kemudian tahu bahwa ternyata mahar gadis-gadis Suriah sebelum perang terbilang tinggi.Namun kini, banyak kisah pilu menyanyat hati.

Satu kalimat yang keluar dari brother ini adalah semoga banyak yang mau melakukan Poligami terutama menikahi sister -sister dari daerah perang . Sampai disini saya menelan ludah ( mahu dibawah kemana arah pembicaraan ini ) hihhihi curiga tingkat tinggi.

Akhirnya terlibatlah kami berdua dalam dialog penuh kehati-hatian ( hati-hati salah ucap bisa buat hati panas dingin )  :D 



Abu Aisha : " Sepakat sekali kalau banyak brother yang berpikiran seperti itu ." Mulai menampakan semangat

Saya ( sambil mengernyitkan jidat ) : " Poligami maksudnya ? "

Pura-pura nggak ngerti padahal mah udah nangkap sinyal dengan memori 2 GB hahaha.
Abu Aisha : " Iya ,khan ini lagi kita diskusikan " Sambil senyum-senyum tumpul

Saya : " Poligami itu khan pilihan Bang .Niatnya juga harus benar-benar ... " dan seperti biasa serangkain argumentasi bla...bla ala debat angin 

. " Emang Abang punya niat mau poligami ? " nanya tapi hati ketar -ketir 

Abu Aisha : " Ainna , hukumnya dalam Al-Qur'an sudah jelas , tidak usah argumentasi panjang lebar " .Biasa ciri khas beliau yang to the point 

Saya :  "  Ampyuun ,ogut khan hanya menyampaikan pendapat karena pada praktiknya banyak tuh yang tidak sesuai ." ^_^
Dalam hati mulai membara hihihi biasa sebagai perempuan tentu saya sensitif , tapi sebagai muslimah saya harus mengakui ucapan Abu Aisha .

Abu Aisha : " Karena sudah jelas hukumnya jadi tinggal tanya , punya kemampuan baik materi maupun non materi tidak ? . Kalau jelas tak mampu sudah seharusnya tidak perlu mengutarakan Kemahuan , apalagi sebut-sebut nama Kema****** . sensooor :P

Saya : " Berarti Abang tidak mampu khan ? 

Abu Aisha : " Bukan tidak mampu tapi belum mampu ." Diikuti senyum lebar dan suara Hahahaha

Saya : Wkwkwkw * hati gelisah * 
Seharusnya kita jernih memandang hukum syariat , karena Allah yang Maha Mengetahui kebutuhan makhlukNya

Sekian cerita dari kota kecil Haugesund , Norwegia
Wassalam

2 komentar:

  1. waah, ini percakapan yang kadang muncul juga antara saya dan ayah Aisha,,sama sama ketar ketir nya :)

    BalasHapus
  2. :D baru baca komen Bunda Aisyah .Iya pokoknya perasaan jujur ya sebagai perempuan kalau udah ngomong Poligami :).Semoga Allah Swt jaga rumah tangga kita dan bimbing kita .Amin

    BalasHapus

Berbagi Sampai Ke Negeri Sang Paulus , Polandia

Allah Ta’ala berfirman : “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adala...