Doa dan Jodoh ( Bag III)
Oleh :Raidah Athirah
****
" Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberi rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa yang berserah diri kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendakiNya. (QS ath- Thalaq : 2-3).
Ada orang-orang yang Allah hadirkan dalam perjalanan hidup saya untuk menjadi penguat keyakinan bahwa Allah yang akan mencukupkan segala keperluan .Dan semua keyakinan itu lahir di kota yang dijuluki kota kembang,Bandung.
Kota Bandung punya sisi -sisi hidup yang indah .Di satu sisi ,julukan kota kembang begitu penuh pesona .Outlet dan Mall menjadi daya tarik .Surga kuliner .Di sisi lain ada orang-orang yang berjuang hidup ,yang dari merekalah saya mengambil pelajaran.
Mungkin Anda sedikit heran bagaimana saya bisa sampai ke Bandung .Selepas SMU saya dibawa Kakak saya ke Bandung .Tak berapa lama kemudian beliau bersama keluarga pindah ke Jakarta .Beliau yang membiayai biaya kuliah saya diawal.
Ketika Bapak saya meninggal saya tengah dalam ujian semester .Hampir saja saya putus asa ingin kembali saja ke Ambon ,mengingat biaya hidup di Bandung cukup mahal .
Ada seorang ukhti yang sampai sekarang saya berhutang pada beliau.Semoga Allah membalas kebaikannya dengan keberkahan yang berlipat .Bila Allah rezekikan saya menjejak lagi di Bandung ,saya ingin berpeluk ukhuwah atas kebaikan yang sangat yang beliau berikan atas nama persaudaraan dalam Islam.
Bagaimana tidak saya yang perantau dipeluk erat ukhuwah oleh beliau.Tak ada ikatan apa-apa.Hanya ikatan keyakinan.Ketika saya sakit dan sendirian di Bandung ,beliau yang membawa saya ke klinik .Merawat saya seperti adik sendiri .
Ukhti asal Majalengka ini yang mengenalkan saya pertama kali dengan kehidupan di sekitaran Kereta Api .Ada banyak peristiwa yang ingin saya uraikan agar kita belajar menghargai manusia bukan karena status maupun rupa ,karena kita tak pernah tahu bagaimana wajah masa depan yang Allah berikan kepada mereka.
Dari sini pula saya mengenal ruang-ruang di Pasar Baru Bandung sampai ke kuliner tradisional seperti minuman Cincau ,Bandrek ,kacang-kacangan .Saya bahkan berlangganan ke seorang bapak yang terbilang sudah berusia renta.Terkadang saya datang untuk mengobati rasa rindu kepada mendiang Bapak saya yang telah berpulang.
Mengapa ada kisah pengantar seperti ini ,tak lain agar kisah pertemuan saya dan Abu Aisha menjadi kisah yang utuh .Agar penggalan-penggalan itu berbicara bahwa dalam kehidupan apa yang kita tanam itu yang kita tuai.Bukankah jodoh juga adalah rezeki ? Dan saya percaya rezeki tak akan tertukar.
***
Setelah menolak ada rasa penyesalan.Saya teringat hadist tentang lamaran yang tidak boleh ditolak bila yang datang melamar telah kita ketahui akhlaknya .
Abu Hurairah radhiyalloohu ‘anhu mengabarkan bahwa Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
“Apabila seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya datang kepada kalian untuk meminang wanita kalian, maka hendaknya kalian menikahkan orang tersebut dengan wanita kalian. Bila kalian tidak melakukannya niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.”
[HR. At-Tirmidzi no. 1084, dihasankan Al-Imam Al-Albani t dalam Al-Irwa’ no. 1868, Ash-Shahihah no. 1022]
[HR. At-Tirmidzi no. 1084, dihasankan Al-Imam Al-Albani t dalam Al-Irwa’ no. 1868, Ash-Shahihah no. 1022]
Keputusan sudah saya ambil .Saya pribadi bukan orang suka mengkhayal yang muluk -muluk. Apalagi punya pikiran bahwa nikah dengan bule supaya hidup saya jauh lebih bahagia .Murobbi saya pun pernah menasihati bahwa jangan sampai saya menikah karena punya tujuan ingin memperbaiki hidup .Menikah karena materi .Menikah dengan orang asing supaya bisa hidup di luar negeri .Itu semua cita-cita yang kerdil.Siapa yang bisa menjamin masa depan ?
Satu minggu berlalu .Saya sholat mohon Allah bimbing saya atau lebih tepatnya menenangkan hati ,karena saya sudah terlanjur menolak lamaran beliau yang justru timbul rasa sesal .Manusiawi memang rasa yang datang .
Saya belum pernah lihat wajah jadi tidak tahu seperti apa rupa beliau ,hanya saya percaya data yang beliau kirim melalui email bahwa beliau punya cita-cita ingin punya keluarga Muslim .Bukan tak ada sister asli Polandia tapi kebanyakan mereka memilih menikah dengan laki-laki Muslim dari luar.
Nasi sudah jadi bubur .Saya sudah menolak dan beliau pun tak tertarik dengan sahabat saya ,Eli .Tapi begitulah jodoh mau bagaimanapun jauh kalau memang takdir pasti ketemu juga .Seperti kata pepatah " garam di laut,asam digunung bertemu dalam belanga " ,seperti itu kira-kira kami berjodoh .
Karena saya tidak mungkin mengontak duluan ,saya pasrahkan kepada Allah.Wajar ada rasa malu .Bagaimanapun saya muslimah .Kata-kata penolakan sudah terlanjur saya tulis,mustahil bila saya menarik lagi kata-kata itu .
Keluarga dari Oman juga mengontak bertanya kapan saya lulus ,berhubung beliau punya perusahaan di Belanda jadi ingin saya datang membantu .Saya sempat berfikir mungkin karir saya bakalan bagus bisa bekerja di Belanda .Pengandaian yang muluk .
Ramadan sudah didepan mata .Saya perlahan mulai sibuk dengan aktifitas kampus dan organisasi .Kunjungan ke adik-adik di samping Bank Rakyat Indonesia di Alun-Alun Bandung masih tetap seperti biasa.Di bawah jembatan juga ada seorang bapak yang biasa berjualan buku dan majalah bekas .Saya suka berlangganan ,karena sudah kenal kadang dikasih murah -meriah.
" Neng tong kitulah ,meni murah pisan .Kasihan atuh ka Abah ."
Kadang suka nawar nggak ketulangan
Di awal Ramadan saya suka sekali ke Masjid Salman .Bahkan taman Ganesa sudah seperti taman inspirasi .Bila sudah selesai mengajar privat ,saya kadang duduk dan mulai menulis .Menulis kejadian-kejadian yang terjadi dalam perjalanan .Tak menyangka bahwa kelak di masa depan,kebiasaan ini Allah jadikan jalan untuk menyembuhkan Baby Blues yang saya alami pasca melahirkan.Masikah kita ragu untuk belajar?
****
Hari itu semua gelisah saya terjawab .Saya baru selesai sholat di Masjid Salman dan membaca Alquran di plataran Masjid .
Sampai menikah pun tempat ini jadi kenangan saat Abu Aisha ikut sholat magrib di Masjid ini .Mengapa ?
Saat itu merupakan dering telepon yang kedua kali ,badan saya belum beranjak dari plataran Masjid Salman .Saya baru saja selesai membaca Alquran dan hendak bersiap-siap balik ke kosan di Cimahi.
" Assalamualaikum sister ,here Abdullah speaking ,kaifa haluki? "
" Wailaikum salam warahmatulah .Alhamdulillah bikhoir wa anta ? .Jazzakallah khoir for calling me "
Dalam hati penuh tanda tanya .Gerangan apa lagi ini .Saya tahu diri kalau bahasa gaul sekarang " sakitnya tuh disini ! " nunjuk diri karena ketakutan yang berlebihan sudah menolak lamaran
" Alhamdulillah khoir sister . I read your email .I ' m really sorry for being late to reply your email because i can not find time to write .I worked in off shore .Little busy here.
" Alhamdulillah i understand your worries ,perhap you wanna read my reply .Jazzakillah khoir for introduce me to Eli .May Allah bring for her good husband ."
Masih menyinggung tindakan konyol sok sayang sahabat yang jadi bumerang dikemudian hari .
"Amin ." Sambil menelan ludah menerka-nerka apa yang mau beliau sampaikan
Bersambung....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar