Doa dan Jodoh ( Bag VI )
Oleh : Raidah Athirah
****
" Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” [Al An’aam 59]
*****
Ada masa dimana kehidupan yang saya jalani saya pikir adalah kehidupan yang paling keras .Kehidupan di rantau penuh banyak rupa .Tak mudah dengan kerudung panjang yang saya kenakan dapat bekerja pada orang lain .Bukankah Allah Maha Rahman ,selalu ada jalan yang Allah sediakan .Selalu saya kata bahwa saya pun hampir putus asa.
Di perjalanan saya kemudian menyadari bahwa rasa perih yang saya jalani hanya debu kecil ,yang bila bercermin dengan orang-orang yang saya temui ,yang saya saksikan ,kehidupan mereka justru penuh duka tapi sebaliknya wajah mereka penuh suka .Hanya orang -orang yang pernah merasakan lapar ,perih dan kekurangan paham benar kelezatan sebuah hidangan .Kekenyangan hanya melahirkan rasa bangga yang berlebihan.
Sebelum masa dimana saya bekerja sebagai guru privat dan guide freelance ,saya menjalani beberapa pekerjaan yang dapat menopang hidup .Pekerjaan sebagai penjaga warnet ,penerjemah ala kadarnya ,pembantu ,penjual asongan ( kue maupun pin ) yang saya jajakan di depan pintu-pintu sekolah .
Pernah saya memberanikan diri melamar di sebuah SMP di Cimahi untuk mengajar tapi kemudian ditolak karena tak memiliki ijazah yang sesuai dan masa itu saya masih dipandang anak kecil yang berani sekali mengajar hanya mengandalkan ijazah SMA .Sedikit pun saya tak kecewa .Saya tahu diri tapi saya tanamkan dalam diri bahwa masih banyak jalan keberkahan yang Allah ,Tuhan Yang Maha Pengasih sediakan dalam setiap jejak yang saya lalui .Hari ini saya bersyukur dengan semua penolakan itu .
Saya pun tahu bagaimana rasanya tidak dihargai .Ada banyak harga yang manusia taruh tapi hati yang jujur akan murni dalam menakar.Dan hari itu saya berkata kepada diri bahwa saya haruslah banyak belajar ,kelak bila kesempatan itu Allah karuniakan kepada saya ,akan saya ceritakan rasa yang saya sebut sebagai 'imunitas kehidupan ' .
Slide sosok gadis mungil yang berjualan pin di pintu sekolah itu masih terekam kuat .Berdiri penuh harap ,kiranya anak-anak sekolah itu mau membeli beberapa pin hanya untuk biaya makan hari itu .
Yang terjadi justru hal yang tak terduga.Seorang bapak mengusirnya atau lebih tepatnya melarang berjualan di depan pintu sekolah karena merasa itu memang arealnya tempat berdagang .
"Eneng ulah icalan di dieu .Ieu tempat abdi ! "
Gadis itu hanya bisa pasrah .Bergeser beberapa langkah .Tertunduk .Hatinya penuh haru bahwa hatinya dididik untuk meyakini ada Allah Tuhan Yang Memberi Rezeki.
Tak disangka lewat di tempat itu seorang ukhti asal Brebes yang pernah berkenalan dengannya di Masjid Cimahi .Ukhti ini pula yang membeli pin.Ukhti ini yang mengulurkan ukhuwah .
Semua rasa putus asa itu sirna .Yang tertanam adalah yakin.Gadis itu adalah saya dalam rupa sebelas tahun yang lalu .Ukhti itu semoga Allah memberkahinya.Ia bekerja di salah satu pabrik baju di Cimahi.
Mengapa pula saya menceritakan lagi ,tak lain agar perjalanan saya berjodoh dengan Abu Aisha menjadi kepingan-kepingan yang utuh .
Mungkin ada yang berfikir saya mengarang bebas .Sudah saya katakan dari awal ada orang-orang yang mengenal saya dalam kehidupan nyata.Perjalanan saya bersinggungan dengan mereka.Dan mereka terhubung dengan saya di Facebook .Beberapa saya sebut ,beberapa memakai inisial .Tak lain agar kami saling menghormati hari-hari lelah bersama dalam ukhuwah.
Ada cermin yang jernih bahwa rasa bisa hadir tapi bila tak ada keyakinan yang sama dalam langkah ,bagaimana tubuh ini hendak melangkah ? Bukankah dalam pernikahan ,ada dua orang asing yang menyelaraskan langkah dimulai dengan perjanjian yang kuat ,lantas bagimana bila kaki kanan dan kiri tak selaras dalam gerak ?
****
Saya dan Eli menuju warnet .Memilih salah satu bilik .Eli tampaknya didera rasa penasaran .Bahkan ia sempat bercanda .
" Ainna ...bagaimana kalau ternyata brother Abdullah ini seorang kakek tua ?
"Makanya Eli , sebelum saya pingsan ,hayu atuh kita cek dulu ,biar pingsan rame-rame ."
Eli tertawa .Saya hanya tersenyum .Wajah saya yang masih pucat seakan menutupi rasa gugup yang datang tiba-tiba .
Saya mulai membuka email .Dan disana terlihat sebuah nama dan beberapa foto yang terlampir.
Saya membaca email beliau yang layaknya proposal ta'aruf .Ada data diri ,siapa keluarganya .Bagaimana pandangan beliau tentang Islam dan keluarga .Ada satu kalimat yang sampai hari ini masih saya ingat .
"Dear sister , i know i am new Muslim but i really want learning about Islam and i know that i need someone who close to me to complete my deen after Allah give me blessing become a Muslim."
Sampai hari ini setiap kami bersilang pendapat ,Saya mengingat ini untuk meneguhkan hati bahwa dibandingkan mengingat kekurangannya ,sudah sepantasnya saya bersyukur atas karunia Allah mempertemukan saya dengan beliau.
Eli masih disamping saya dengan setia menunggu membuka beberapa foto yang beliau lampirkan.
Saya membuka dengan rasa gugup yang amat sangat.Bagaimana tidak .Hampir beberapa bulan sang donatur mengirim uang tapi saya dan Eli sama sekali tak pernah tahu rupa .
Saya membuka lampiran dan terpampang di depan PC warnet seorang laki-laki muda berfoto dengan seorang anak perempuan berambut pirang .Yang kelak ketika saya di Polandia ,gadis kecil putri kakak ipar saya ini yang selalu rajin kami kunjungi sebelum saya mengandung Aisha Pisarzewska.
Foto yang lain berisi sepasang suami istri dan dia memeluk mereka.Suami istri ini adalah kedua mertua saya .Ibu mertua saya berambut pirang pekat sedangkan bapak mertua berambut agak kecokelatan .
Eli memandang saya dengan sedih .Saya kemudian mengatakan kepada Eli bahwa saya akan mengirim fotonya kepada beliau dan juga foto kami berdua .Foto Eli saya tandai sebagai diri saya .Harapannya semoga beliau tertarik dengan Eli.
Ini jelas tindakan yang paling konyol untuk menyayangi sahabat karena dikemudian hari ini menjadikan hubungan saya dan Eli retak walau pada akhirnya kami berdamai .
Bersambung......
Note : Bag sebelumnya ada di blog
Tidak ada komentar:
Posting Komentar